Ash-Shaumu Lii wa Ana Ajzii Bihi

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Hadits qudsi ini menyimpan keajaiban yang luar biasa. Di antara sekian banyak ibadah seperti shalat, zakat, haji, dan sedekah, hanya puasalah yang Allah langsung klaim sebagai milik-Nya. Mengapa?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah di balik keistimewaan ini. Pertama, puasa adalah ibadah yang paling murni dari riya'. Seseorang bisa saja pamer dalam shalatnya, memperlihatkan sedekahnya, atau menampakkan dzikirnya. Namun puasa? Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau diam-diam makan dan minum. Hanya Allah yang mengetahui.

Kedua, puasa merupakan bentuk pengorbanan yang paling total. Orang yang berpuasa meninggalkan syahwat makan, minum, dan hubungan suami istri, yaitu semua kebutuhan dasar manusia, semata-mata karena Allah. Inilah mengapa Allah menyebut puasa sebagai ibadah-Nya yang paling khusus.

Ketiga, karena puasa adalah untuk Allah, maka Allah sendiri yang akan membalasnya dengan cara yang tidak terbatas. Ibadah lain dibalas dengan lipatan sepuluh hingga tujuh ratus kali. Tapi puasa? Allah berfirman: "Aku sendiri yang akan membalasnya." Artinya, pahala puasa tidak terbatas dan tidak terhitung, sesuai dengan keagungan dan kemurahan Allah yang Maha Tak Terbatas.

Maka mari kita jadikan bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas puasa kita. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi benar-benar menjadikan puasa sebagai persembahan tulus hanya untuk Allah Ta'ala.