Aspmyra, Angin, dan Kekalahan Inter

(c) AP Photo/Luca Bruno

Angin dari Laut Norwegia memukul wajah seperti tamparan yang jujur. Di kota kecil Bodø, cahaya matahari musim panas bisa tinggal terlalu lama, dan musim dingin bisa terasa seperti ujian yang tak selesai. Di sana berdiri FK Bodø/Glimt, klub dengan warna kuning yang menyala di tengah langit kelabu. Mereka tidak besar. Mereka tidak kaya. Namun, mereka bermain tanpa takut.

Stadion mereka kecil. Aspmyra Stadion tidak memekakkan telinga seperti stadion raksasa Eropa. Angin sering menjadi pemain kedua belas. Rumput kadang keras. Udara tipis dan dingin. Tim tamu datang dengan mantel tebal dan nama besar. Mereka pulang dengan napas pendek.

Bodø/Glimt tidak membeli dunia. Mereka membangunnya. Pemain datang bukan sebagai bintang, melainkan sebagai pekerja. Mereka berlari bersama. Mereka menekan bersama. Ketika kehilangan bola, mereka mengejarnya seperti nelayan mengejar perahu yang terlepas dari tambatan. Tidak ada gerak yang sia-sia. Tidak ada keluhan yang panjang.

Pelatih mereka, Kjetil Knutsen, berdiri tenang di tepi lapangan. Ia tidak banyak bicara. Ia menuntut disiplin. Ia meminta keberanian. Timnya bermain cepat. Umpan pendek. Lari tanpa ragu. Mereka tidak menunggu dihormati. Mereka mengambilnya.

Malam ketika Inter Milan datang, kota itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Nama besar. Seragam dengan sejarah panjang. Pemain yang terbiasa dengan lampu terang dan stadion megah. Namun, di Aspmyra, lampu tidak membuat siapa pun lebih tinggi. Angin tetap sama. Rumput tetap keras.

Peluit dibunyikan. Inter menguasai bola. Mereka mencoba mengatur tempo. Bodø/Glimt tidak panik. Mereka menekan. Mereka berlari. Setiap sentuhan diburu. Setiap ruang ditutup. Ketika peluang datang, mereka tidak ragu. Tembakan dilepaskan. Gol tercipta. Tidak ada selebrasi berlebihan. Hanya kepalan tangan dan napas berat.

Inter mencoba bangkit. Mereka menyerang dengan sabar dan dengan amarah. Namun, tuan rumah bertahan seperti dinding yang dibangun dari kerja bertahun-tahun. Blok demi blok. Tekel demi tekel. Waktu berjalan lambat, lalu tiba-tiba cepat. Peluit akhir terdengar seperti dentang besi.

Malam itu bukan sekadar kemenangan. Itu adalah pernyataan bahwa klub dari utara, dari kota kecil yang sering dilewati peta besar, bisa berdiri sejajar dengan raksasa Eropa dan tidak menunduk. Bukan dengan kata-kata, melainkan dengan permainan.

Bodø/Glimt tidak berubah setelahnya. Mereka tetap berlatih di udara dingin. Tetap berlari tanpa banyak bicara. Namun, kini ketika nama mereka disebut, ada jeda kecil. Jeda yang berisi ingatan tentang malam ketika Inter Milan datang dan pulang tanpa kemenangan.

Di bawah cahaya pucat utara, mereka terus bermain. Mereka tahu siapa mereka. Dan mereka tahu apa yang bisa mereka kalahkan.