Aku berdiri di tepi kolam itu dengan perasaan seperti sedang membuka halaman lama dari buku harian yang nyaris kulupa. Airnya beriak pelan, memantulkan langit yang kelabu dan daun-daun yang menggantung rendah seakan ingin ikut bercermin. Di tengah kolam, sebuah pulau bundar berdiri tenang, dan di atasnya, patung seorang perempuan mematung dalam diam yang khidmat. Ia tidak bergerak, tetapi justru karena itulah ia tampak paling hidup.
Rindang pepohonan menaungi tempat ini seperti tangan ibu yang tidak pernah benar-benar pergi. Cabang-cabangnya bertaut, menyaring cahaya, menyisakan remang yang lembut. Aku selalu percaya bahwa taman kota adalah kompromi terbaik antara manusia dan alam, sebuah perjanjian tak tertulis bahwa kita boleh membangun gedung setinggi angan, asalkan masih menyediakan ruang bagi burung dan bayangan.
Di kejauhan, kulihat anak-anak mengayuh perahu bebek dengan riang. Warna-warnanya cerah, seperti potongan kue ulang tahun yang terapung di atas air hijau. Tawa mereka sampai ke tempatku berdiri, melompat-lompat di permukaan kolam sebelum akhirnya pecah menjadi riak kecil. Aku tersenyum, sebab kebahagiaan anak-anak selalu terdengar lebih jujur daripada pidato mana pun.
Patung di tengah kolam itu menghadap entah ke mana, mungkin ke masa lalu, mungkin ke masa depan. Aku membayangkan ia menyimpan ribuan cerita, tentang pasangan yang saling berjanji, tentang orang-orang yang datang membawa letih, lalu pulang dengan hati sedikit lebih ringan. Ia menjadi saksi tanpa perlu berbicara, dan kesaksiannya terasa lebih tulus daripada sorak sorai.
Aku duduk di bangku kayu, membiarkan waktu berjalan tanpa kupacu. Di kota yang gemar tergesa, tempat seperti ini adalah jeda yang langka. Angin berembus pelan, menyentuh wajahku seperti sahabat lama yang menegur tanpa suara. Aku belajar lagi bahwa tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan berlari.
Dan ketika aku menatap kembali ke pulau kecil itu, aku merasa seperti sedang melihat diriku sendiri dari jauh. Berdiri di tengah riuh kehidupan, dikelilingi arus yang tak pernah benar-benar berhenti, namun berusaha tetap tegak dan tenang. Mungkin hidup bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa mampu kita berdiri, walau sendirian, di tengah kolam yang luas.