Cilok Goreng


Malam itu angin di Lapangan Rindam Magelang berembus seperti membawa kabar yang tertunda. Lampu-lampu pasar Ramadan menggantung rendah, seakan kelelahan menyaksikan manusia yang datang dan pergi dengan kantong plastik berisi takjil dan doa-doa kecil yang dibungkus tergesa. Aku berjalan di antara bayang-bayang, mencari satu hal sederhana yang entah mengapa terasa mustahil ditemukan: cilok.

Sejak kecil, aku percaya bahwa cilok adalah penanda kesetiaan pada hal-hal yang tidak banyak menuntut. Ia bulat, kenyal, tidak pernah berjanji lebih dari sekadar rasa kenyang dan sedikit saus kacang yang menghangatkan lidah. Namun malam itu, di tengah riuh pedagang kolak dan gorengan yang berkilau oleh minyak, tidak ada satu pun pedagang cilok. Seolah-olah mereka lenyap dari dunia tanpa pamit, seperti sebuah desa yang dikutuk lupa oleh peta.

Aku hampir menyerah ketika mataku menangkap sosok kecil berkilau di ujung tusuk bambu. Ia bukan cilok rebus yang kukenal, melainkan cilok goreng yang kulitnya mengeras oleh api dan waktu. Bentuknya tak lagi sempurna, sedikit keriput seperti wajah orang tua yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Pedagangnya berkata ia baru saja menggorengnya, tetapi bagiku cilok itu tampak seperti telah menunggu bertahun-tahun untuk dipilih oleh seseorang yang datang dengan niat setengah putus asa.

Aku membelinya bukan karena yakin akan rasanya, melainkan karena tidak menemukan satu pun pedagang cilok di seluruh pasar Ramadan itu. Dalam ketiadaan, manusia sering kali berdamai dengan pengganti. Ketika kugigit, bunyinya retak pelan, seperti ranting kecil yang patah di hutan sunyi. Di dalamnya masih ada kelembutan yang tersisa, kenyal dan hangat, seakan menyimpan kenangan tentang air mendidih yang pernah memeluknya sebelum minyak panas mengubah takdirnya.

Di sekelilingku, orang-orang terus bertransaksi dengan suara yang berloncatan seperti burung pipit. Anak-anak menarik lengan ibunya, menunjuk balon dan es buah yang memantulkan cahaya lampu. Tetapi aku berdiri dengan tusuk bambu di tangan, merasa seolah sedang memegang kompas kecil yang menunjuk pada arah pulang yang berbeda. Cilok goreng itu bukan sekadar makanan. Ia adalah kompromi yang bisa dimakan, sebuah keputusan yang renyah di luar namun tetap menyimpan sesuatu yang lembut di dalam.

Di Lapangan Rindam Magelang, malam terus mengental seperti kuah yang direbus terlalu lama. Aku menghabiskan cilok goreng itu perlahan, seakan setiap gigitan adalah upaya menegosiasikan kerinduan pada hal yang tidak kutemukan. Dan ketika tusuk bambu itu tinggal sebatang kayu kosong, aku sadar bahwa kadang-kadang yang kita cari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah rupa, menunggu kita untuk menerima bahwa tidak semua kehilangan harus ditangisi, sebagian cukup digoreng dan dimakan dalam diam.

Benar yang dikatakan Mbak Puput, kalau memang belum berjodoh dengan Cilok Magelang, bagaimanapun diusahakan tetap belum bisa merasakan.