Aku berdiri di depan gerobak biru Cilok Pasundan yang seolah muncul dari lipatan waktu, di bawah payung biru yang melindungiku dari terik matahari Banjarnegara yang keras. Aku memberikan jempol dengan senyum penuh kemenangan, seolah aku baru saja menemukan harta karun tersembunyi di sudut kota yang berdebu ini. Di sampingku, penjualnya bekerja dengan ketekunan seorang alkemis, mengaduk panci berisi bola-bola kenyal yang aromanya mampu membangkitkan ingatan tentang masa kecil yang hilang.
Di latar belakang, gedung Baperlitbang berdiri dengan keangkuhan birokrasi yang melankolis, kontras dengan kesederhanaan gerobak kayu yang menjadi pusat semestaku sore ini. Aku merasa seperti bagian dari sebuah lukisan yang tak pernah selesai, di mana batas antara rasa lapar dan nostalgia menjadi kabur dalam uap cilok yang mengepul. Langit yang mendung menggantung di atas pohon-pohon rindang, seolah-olah seluruh alam semesta sedang menahan napas untuk menyaksikan momen sederhana namun sakral ini.
Kehadiranku di sini adalah sebuah ziarah rasa, sebuah pelarian dari hiruk-pikuk dunia menuju kelezatan yang jujur dan tak kenal kompromi. Setiap detik yang kuhabiskan di depan gerobak ini terasa seperti seratus hari penantiam yang akhirnya terobati oleh kehangatan bumbu atoom bulan dan tawa yang terselip di antara percakapan ringan. Aku menyadari bahwa di balik kesederhanaan Cilok Pasundan, terdapat silsilah kebahagiaan yang terus berlanjut, sebuah warisan yang tak akan pernah lekang oleh waktu selama gerobak biru itu tetap berputar di jalanan ini.