Aku memandangi satu butir pentol yang tertusuk rapi di ujung garpu, berdiri sendirian di hadapanku seperti tokoh kecil dalam panggung yang terlalu luas. Latar putih di belakangnya membuatnya tampak penting, hampir khidmat. Ia tidak sebesar cita-cita masa kecilku, tidak semewah makanan yang sering dipamerkan orang-orang di layar kaca, tetapi dari permukaannya yang kenyal dan berkilau itu, aku melihat kesungguhan. Kesungguhan tepung, daging, dan tangan sederhana yang meramunya dengan harapan agar seseorang merasa kenyang hari ini.
Aku teringat masa-masa ketika jajanan seperti ini adalah kemewahan yang harus ditimbang dengan uang receh di saku celana. Betapa kami berdiri di depan gerobak, menelan ludah sambil menghitung kemungkinan. Satu butir saja sudah cukup membuat sore terasa ramah. Kami tidak pernah membicarakan gengsi, karena perut lebih jujur daripada harga diri. Dan kini, ketika satu pentol ini terangkat di ujung garpu di hadapanku, ia menjelma menjadi kapsul waktu yang membawa pulang kenangan tentang tawa, tentang debu lapangan, tentang teman-teman yang percaya bahwa kebahagiaan bisa dibeli seribu dua ribu rupiah.
Aku tersenyum sebelum menggigitnya. Hidup, pikirku, sering kali seperti pentol ini. Tampak biasa dari luar, namun menyimpan kehangatan yang tak banyak bicara. Ia tidak menuntut dipuji, tidak pula memaksa diingat. Ia hanya perlu dinikmati dengan utuh, selagi hangat, selagi ada. Dan di antara kesibukan yang gemar membesar-besarkan ambisi, satu butir kecil ini mengajarkanku sesuatu yang sederhana, bahwa rasa syukur kadang datang dalam bentuk yang bulat, kenyal, dan tidak banyak gaya.