Sore itu aku duduk berhadapan dengan dua keajaiban hidupku di Chocolate Monggo. Lampu-lampu hangat menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya lembut pada wajah Nana, istriku, yang selalu tampak teduh seperti langit selepas hujan. Di pangkuannya, Iliana bersandar dengan percaya diri, memeluk sekotak cokelat bergambar robot seolah ia baru saja menaklukkan dunia kecilnya. Aroma kakao memenuhi ruangan, tetapi yang lebih pekat adalah rasa syukur yang diam-diam memenuhi dadaku.
Aku sering merasa hidup ini berlari terlalu cepat, menyisakan aku yang tertatih mengejar makna. Namun melihat Nana tersenyum seperti itu, senyum yang tidak dibuat-buat dan tidak menuntut apa-apa, aku seperti diingatkan bahwa bahagia tak pernah serumit teori-teori besar yang pernah kubaca. Iliana menatap kamera dengan mata berbinar, seakan ingin memberi tahu dunia bahwa kebahagiaan bisa digenggam dalam dua tangan mungil dan sekotak cokelat. Dalam tatapan mereka, aku menemukan rumah, tanpa perlu alamat.
Di sudut kedai, orang-orang bercakap tentang urusan yang mungkin penting bagi mereka. Tetapi bagiku, waktu seakan berhenti di meja kecil itu. Aku memandangi Nana dan Iliana dengan kesadaran yang pelan namun pasti, bahwa suatu hari Iliana akan tumbuh, mungkin tak lagi memeluk cokelat dengan cara yang sama, mungkin tak lagi duduk di pangkuan ibunya. Maka sore itu kusematkan diam-diam ke dalam ingatan, seperti menyimpan cokelat terbaik untuk hari yang jauh di depan, ketika rindu datang dan aku butuh alasan untuk tersenyum.