Durian di Tangan, Damai di Wajah

Aroma durian itu lebih dulu datang sebelum aku benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Iliana memegang daging durian dengan dua tangan kecilnya, wajahnya serius, seolah sedang menghadapi urusan besar yang tak boleh salah langkah. Matanya menatapku sebentar, lalu kembali pada durian itu, seperti meminta izin pada dunia sebelum menggigit sesuatu yang kelak akan ia kenang.

Daging durian menempel di jarinya, di bibirnya, bahkan sedikit di dagunya, dan ia sama sekali tidak peduli. Baginya, kenikmatan tidak perlu rapi. Di setiap kunyahan ada keberanian kecil, keberanian untuk menikmati sesuatu apa adanya, tanpa takut lengket, tanpa takut bau, tanpa takut dinilai. Aku tersenyum, karena di usia sekecil itu, ia sudah lebih jujur daripada kebanyakan orang dewasa yang sering menyembunyikan selera.

Aku menatapnya dengan perasaan penuh yang sulit kuterjemahkan. Iliana sedang makan durian, tapi diam-diam ia sedang mengajarkanku tentang hidup. Tentang keberanian mencintai sesuatu meski tidak semua orang setuju. Tentang kebahagiaan yang sederhana, lengket, dan beraroma kuat, namun tak pernah bohong.