Aku berdiri di tengah keramaian yang terasa seperti pelukan panjang. Di belakang kami, dinding bertuliskan cita rasa rumah hangat di hati seolah tahu benar apa yang sedang kami rayakan. Wajah-wajah yang tersusun rapi namun tak pernah benar-benar rapi itu adalah peta hidupku sendiri. Ada orang tua yang matanya menyimpan cerita puluhan tahun, ada anak-anak yang tertawa tanpa beban sejarah, dan ada kami yang berada di antara keduanya, generasi penyangga kenangan.
Aku belajar satu hal sore itu, keluarga tidak pernah benar-benar bisa difoto dengan sempurna. Selalu ada yang berkedip, ada yang menoleh, ada anak kecil yang ingin turun dari pangkuan, dan ada tawa yang pecah sebelum aba-aba. Tapi justru di situlah keindahannya. Seperti hidup, ia tidak menunggu siap. Ia datang apa adanya, dan kita hanya bisa merangkulnya sambil tersenyum setengah kikuk.
Ketika kamera berhenti bekerja, aku justru merasa waktu sedang berjalan paling pelan. Foto ini memang akan diam, tapi di dalamnya tersimpan tawa, genggaman tangan, dan rasa syukur yang tidak muat di bingkai. Kelak, kami akan melihatnya kembali sambil tertawa, menyebut nama satu per satu, dan merasa hangat tanpa alasan yang rumit. Di saat itulah aku tahu, kebahagiaan sering datang sesederhana ini, berkumpul, saling dekat, dan pulang dengan hati yang penuh.