Iliana di hadapanku dengan senyum yang seolah baru saja ditemukan manusia untuk pertama kalinya. Rambutnya basah oleh keringat dan petualangan, matanya berkilat seperti rahasia kecil yang ingin segera dibagi. Di depannya, sebuah ember hijau berubah menjadi samudra, dan lantai rumah kami menjelma pelabuhan paling ramai di dunia.
Kapal mainan itu berlayar dengan gagah, menantang riak-riak kecil yang dibuat tangan mungilnya. Aku melihat keberanian bekerja dalam skala paling jujur. Tidak ada peta, tidak ada kompas, hanya kepercayaan bahwa air akan selalu mau diajak berteman. Dari situ aku paham, mimpi tidak selalu lahir dari hal besar, kadang ia mengapung pelan di ember plastik.
Aku duduk diam, merasa waktu melunak. Di wajah Iliana ada masa depanku yang sedang berlatih tersenyum, ada harapan yang tidak mengenal takut. Jika suatu hari ia bertanya dari mana keberanian itu berasal, aku akan menjawab dengan sederhana. Dari sore ini, dari ember hijau, dan dari kapal kecil yang mengajarkan kami cara berlayar tanpa harus pergi jauh.