Loske

Aku berjalan menyusuri trotoar Keprabon yang basah sisa hujan, membuntuti langkah-langkah kecil Iliana yang bersemangat menuju Loske. Di tempat yang katanya pusat "kalcer" anak muda Solo ini, putri kecilku melangkah dengan keyakinan seorang petualang sejati, sementara aku mengekor di belakangnya sembari menenteng plastik berisi bekal kami hari ini. Matahari bersembunyi di balik awan mendung, memberikan aura melankolis pada deretan bangunan tua yang dindingnya mengelupas dimakan usia, seolah-olah setiap retakan semen di sana ingin menceritakan kisah tentang kejayaan masa lalu kepada kami berdua.

Begitu sampai di ambang pintu Loske, Iliana berhenti sejenak di depan dinding yang penuh dengan tempelan stiker, sebuah mosaik liar dari pemikiran-pemikiran modern yang saling tumpang tindih. Ia berdiri di sana, memeluk boneka kelinci kecilnya dengan penuh perlindungan, tampak begitu mungil di bawah papan "Order Here" yang menggantung kaku di dinding kayu berlubang. Pemandangan ini sungguh ajaib; seorang anak kecil yang masih murni berdiri di tengah altar kopi tempat para pemimpi berkumpul, menciptakan sebuah harmoni yang ganjil namun indah di antara beton kasar dan cahaya lampu yang temaram.

Aku memperhatikannya dari kejauhan, menyadari bahwa perjalanan membeli kopi ini adalah sebuah ritual pendewasaan yang terlalu dini bagi Iliana. Ia menoleh sedikit, memberikan profil wajahnya yang penuh rasa ingin tahu, seolah sedang mencoba menerjemahkan menu-menu rumit yang terpampang di dinding. Di tempat yang penuh dengan gaya dan estetika ini, keberadaan Iliana dengan gaun motif bunganya adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa, sebuah pengingat bahwa di balik segala hiruk-pikuk budaya populer, kebahagiaan sejati hanyalah tentang genggaman tangan seorang ayah dan langkah kaki kecil menuju pintu sebuah kedai kopi.