Man Qaama Ramadhana Iimanan Wahtisaaban

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759)

Hadits ini berpasangan dengan hadits tentang puasa. Jika puasa Ramadan dengan iman dan ihtisab menghapus dosa, maka shalat malam Ramadan dengan iman dan ihtisab juga menghapus dosa. Subhanallah, Allah memberikan dua jalur pengampunan sekaligus di bulan yang mulia ini.

Yang dimaksud shalat malam di bulan Ramadan adalah shalat tarawih. Para ulama sepakat bahwa tarawih adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan barangsiapa mendirikannya dengan penuh keimanan dan keikhlasan, ia mendapatkan janji pengampunan dosa ini.

Namun kembali, syaratnya sama: "iimaanan" dan "ihtisaaban." Shalat tarawih yang dikerjakan karena ikut-ikutan, tanpa kekhusyukan, asal selesai cepat, mungkin tidak memenuhi kedua syarat ini.

Shalat tarawih yang ideal adalah yang dikerjakan dengan thuma'ninah, tidak terburu-buru, dengan bacaan yang baik, dengan hati yang hadir, dan dengan niat yang murni mengharap ridha Allah.

Imam Ahmad rahimahullah apabila ditanya tentang jumlah rakaat tarawih, beliau berkata bahwa itu tidak ada batasnya yang ketat dari Nabi. Yang penting adalah kualitasnya. Shalat delapan rakaat yang khusyuk lebih baik dari dua puluh rakaat yang asal-asalan. Mari kita jadikan tarawih Ramadan ini bukan sekadar rutinitas, tapi benar-benar sarana meraih pengampunan Allah yang dijanjikan dalam hadits yang mulia ini.