Dua tanganku menggenggam setang sepeda dengan mantap, sementara jalan panjang membentang di hadapanku seperti pita abu-abu yang tak sabar ditaklukkan. Angin sore menyusup lewat sela-sela pepohonan tinggi di kanan kiri jalan, menyentuh wajahku dengan dingin yang lembut. Aspal masih menyimpan jejak hujan, memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai menyala, seolah kota ini sedang perlahan menyalakan mimpinya satu per satu.
Di sebelah kiri, trotoar rapi dengan garis kuning terang membentang seperti batas antara mereka yang berjalan pelan dan aku yang memilih melaju. Mobil dan motor melintas, sebagian tergesa, sebagian biasa saja. Namun di atas sepeda ini, waktu terasa berbeda. Setiap kayuhan adalah keputusan kecil untuk terus maju, setiap tarikan napas adalah pengingat bahwa tubuh ini masih setia bekerja sama dengan tekad.
Aku menyukai momen seperti ini, ketika dunia terasa luas namun tidak mengancam. Pohon-pohon besar menaungi jalan seperti penjaga tua yang bijak, dan aku hanyalah seorang pengendara yang sedang belajar tentang ritme. Tentang keseimbangan. Tentang bagaimana hidup, seperti bersepeda, menuntutku terus bergerak agar tidak jatuh.
Di sebelah kiri, trotoar rapi dengan garis kuning terang membentang seperti batas antara mereka yang berjalan pelan dan aku yang memilih melaju. Mobil dan motor melintas, sebagian tergesa, sebagian biasa saja. Namun di atas sepeda ini, waktu terasa berbeda. Setiap kayuhan adalah keputusan kecil untuk terus maju, setiap tarikan napas adalah pengingat bahwa tubuh ini masih setia bekerja sama dengan tekad.
Aku menyukai momen seperti ini, ketika dunia terasa luas namun tidak mengancam. Pohon-pohon besar menaungi jalan seperti penjaga tua yang bijak, dan aku hanyalah seorang pengendara yang sedang belajar tentang ritme. Tentang keseimbangan. Tentang bagaimana hidup, seperti bersepeda, menuntutku terus bergerak agar tidak jatuh.