Membawa Cilok dan Jus

Nana, istriku, dengan tangan terangkat membawa jus jambu merah, bukan lagi sekadar warna di plastik bening, melainkan tanda perhatian yang dikirim diam-diam di tengah siang yang basah. Ia selalu begitu, hadir tanpa banyak suara, tapi cukup untuk membuat hari terasa lebih tertib dan masuk akal.

Iliana, anakku, duduk manis sambil memeluk kelinci kecilnya, seolah ikut menjaga titipan cinta itu agar sampai dengan selamat. Matanya yang jujur seperti berkata bahwa dunia masih baik-baik saja, selama ada cilok hangat dan jus buatan rumah. Di usianya, memberi dan menerima masih hal yang sederhana, belum dibebani hitung-hitungan.


Siang itu, di balik hujan dan perjalanan singkat, aku belajar lagi tentang arti pulang. Bukan soal alamat, melainkan tentang Nana yang ingat aku belum makan, dan Iliana yang ikut serta dengan caranya sendiri. Jus jambu merah dan cilok buatan tangan, keduanya terasa seperti pengingat lembut bahwa aku tidak sedang berjalan sendirian dalam hidup ini.