Ketika Como 1907 mulai mencuri perhatian publik Indonesia dengan kepemilikan Hartono bersaudara, dua pengusaha terkaya Indonesia, banyak yang bertanya: apakah ini saatnya suporter Indonesia beralih haluan? Bagiku, jawabannya tetap tegas: tidak. AC Milan tetap menjadi klub yang mengalir dalam darahku, dan ini bukan sekadar soal kesetiaan buta.
Menjadi fan AC Milan bukan keputusan yang diambil kemarin sore. Ini adalah perjalanan panjang yang dimulai bertahun-tahun lalu, mungkin sejak masa kecil saat pertama kali melihat jersey bergaris merah-hitam itu di televisi. Betapa ajaibnya waktu itu. Betapa indahnya kenangan itu. Paolo Maldini dengan elegan memotong serangan lawan, seolah ia sedang menari balet di atas rumput San Siro. Kaka menari-nari melewati pertahanan dengan senyum khasnya, seperti anak kecil yang sedang bermain di lapangan tanah kampung halaman. Atau Andriy Shevchenko yang merobek gawang lawan dengan tembakan kerasnya, seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Milan bukan sekadar klub sepakbola. O, tidak. Milan adalah koleksi kenangan yang tersimpan rapi di sudut hati. Begadang menonton Liga Champions dengan mata berbinar, berteriak histeris saat hampir menang di final Istanbul meski kemudian patah hati, atau merayakan Scudetto dengan teman-teman sesama Milanisti sambil tertawa dan menangis secara bersamaan. Bagaimana mungkin semua itu diabaikan hanya karena ada klub baru dengan koneksi Indonesia? Bagaimana mungkin kenangan-kenangan itu dilupakan begitu saja?
AC Milan adalah salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepakbola dunia. Tujuh trofi Liga Champions yang berkilauan seperti bintang di langit malam. Sembilan belas gelar Serie A yang tersusun rapi seperti buku-buku di perpustakaan tua. Dan deretan pemain legendaris yang namanya terukir abadi di pantheon sepakbola, seperti nama-nama pahlawan yang terukir di prasasti. Dari era Arrigo Sacchi dengan pressing total yang revolusioner, hingga masa keemasan Carlo Ancelotti yang mempesona seperti dongeng sebelum tidur.
Como 1907, meski memiliki sejarah panjang sejak 1907, baru saja kembali ke Serie A setelah puluhan tahun. Mereka sedang membangun fondasi, seperti orang yang baru mulai membangun rumah dari nol. Sementara Milan sudah memiliki istana yang megah, lengkap dengan taman-taman indah dan air mancur yang menyembur tinggi. Ini bukan meremehkan Como. Sungguh bukan. Aku justru mengapresiasi proyek mereka dengan sepenuh hati. Tetapi membandingkan keduanya seperti membandingkan perpustakaan berusia ratusan tahun dengan toko buku yang baru dibuka kemarin pagi.
San Siro bukan sekadar stadion. O, bukan. San Siro adalah kuil, tempat suci bagi jutaan Milanisti di seluruh dunia. Ketika lagu "Milan, Milan" berkumandang, ada getaran emosional yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti puisi yang terlalu indah untuk diterjemahkan. Ketika melihat lambang Diavolo di dada jersey, ada kebanggaan yang mengalir seperti sungai di musim hujan.
Identitas sebagai Milanisti sudah menjadi bagian dari diriku, seperti darah yang mengalir di pembuluh nadi. Ini membentuk cara aku melihat sepakbola: mengapresiasi keindahan permainan seperti mengapresiasi lukisan di museum, menghargai keanggunan taktik seperti menghargai puisi klasik, dan menuntut standar tinggi dalam setiap pertandingan. Milan mengajarkan bahwa sepakbola bukan hanya tentang menang, tapi tentang bagaimana cara menang dengan gaya, dengan keanggunan, dengan jiwa.
Aku paham argumentasi "mendukung klub milik Indonesia adalah bentuk nasionalisme." Aku mengerti logika itu. Tapi cinta terhadap klub sepakbola tidak seharusnya dipaksakan berdasarkan kepemilikan. Cinta adalah sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya, seperti bunga liar yang tumbuh di tepi jalan tanpa ditanam siapa pun. Jika logika ini diterapkan, apakah suporter Indonesia dari Manchester United, Liverpool, atau Barcelona semuanya salah? Tentu tidak.
Sepakbola adalah tentang koneksi emosional yang organik, bukan kewajiban berdasarkan paspor pemilik klub. Aku bisa mengapresiasi apa yang dilakukan Hartono bersaudara untuk Como. Itu luar biasa untuk sepakbola Italia dan kebanggaan Indonesia. Itu adalah pencapaian yang patut diacungi jempol. Tetapi aku tidak harus meninggalkan Milan karenanya. Aku tidak harus mengkhianati cinta pertamaku.
Menjadi fan Milan dalam beberapa tahun terakhir bukan hal mudah. Sungguh bukan. Setelah era keemasan dengan Berlusconi, Milan mengalami masa-masa kelam yang seperti malam tanpa bintang. Pergantian kepemilikan yang dramatis, performa inkonsisten yang membuat jantung berdebar, bahkan sempat absen dari Liga Champions. Tapi justru di saat-saat sulit inilah loyalitas diuji. Justru di saat-saat gelap inilah cahaya cinta sejati bersinar paling terang.
Saat Milan akhirnya menjuarai Scudetto 2021-22 setelah sebelas tahun penantian yang terasa seperti seabad, kebahagiaan itu terasa berbeda. Ini bukan sekadar merayakan kemenangan. Ini adalah merayakan kesetiaan yang terbayar, seperti petani yang akhirnya menuai hasil setelah bertahun-tahun menanam dengan penuh harap. Bagaimana mungkin aku meninggalkan klub ini tepat saat mereka bangkit kembali? Bagaimana mungkin aku pergi saat matahari pagi mulai menyingsing?
Yang sering dilupakan orang: mendukung Milan tidak berarti memusuhi Como. Tidak sama sekali. Aku dengan senang hati mengikuti perkembangan Como 1907, mengapresiasi pemain-pemain muda berbakat yang mereka rekrut, dan bangga saat mereka tampil baik di Serie A. Saat Milan bertemu Como, aku tetap mendukung Rossoneri dengan segenap jiwa raga, tapi aku juga senang melihat Como menunjukkan kualitas. Dunia ini cukup luas untuk menampung kedua cinta itu.
Dunia sepakbola cukup luas untuk menampung berbagai bentuk apresiasi. Aku bisa menjadi Milanisti sejati sambil tetap mengikuti dan mendukung Como dari kejauhan sebagai proyek kebanggaan Indonesia. Seperti anak yang mencintai ibunya dengan sepenuh hati, tetapi tetap menghormati bibinya dengan tulus.
Pada akhirnya, menjadi fan AC Milan adalah tentang hati. Ini tentang kenangan yang tak tergantikan, seperti album foto lama yang menguning di sudut lemari. Ini tentang identitas yang sudah terbentuk, seperti sidik jari yang unik dan tak akan pernah sama dengan orang lain. Dan ini tentang cinta yang tidak bisa begitu saja dialihkan, seperti sungai yang tidak bisa dipaksa mengubah alirannya.
Como 1907 adalah cerita baru yang menarik dan patut didukung. Tetapi Milan, o Milan, Milan adalah rumah. Milan adalah tempat pulang. Milan adalah pelabuhan di mana hati ini berlabuh.
Forza Milan, selamanya dan sepenuhnya. Tidak ada yang bisa mengubah itu, bahkan kepemilikan Indonesia di klub lain sekalipun. Karena cinta sejati tidak mengenal kompromi. Cinta sejati adalah pilihan yang diambil dengan sepenuh hati dan dipegang teguh sampai akhir waktu.
Menjadi fan AC Milan bukan keputusan yang diambil kemarin sore. Ini adalah perjalanan panjang yang dimulai bertahun-tahun lalu, mungkin sejak masa kecil saat pertama kali melihat jersey bergaris merah-hitam itu di televisi. Betapa ajaibnya waktu itu. Betapa indahnya kenangan itu. Paolo Maldini dengan elegan memotong serangan lawan, seolah ia sedang menari balet di atas rumput San Siro. Kaka menari-nari melewati pertahanan dengan senyum khasnya, seperti anak kecil yang sedang bermain di lapangan tanah kampung halaman. Atau Andriy Shevchenko yang merobek gawang lawan dengan tembakan kerasnya, seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Milan bukan sekadar klub sepakbola. O, tidak. Milan adalah koleksi kenangan yang tersimpan rapi di sudut hati. Begadang menonton Liga Champions dengan mata berbinar, berteriak histeris saat hampir menang di final Istanbul meski kemudian patah hati, atau merayakan Scudetto dengan teman-teman sesama Milanisti sambil tertawa dan menangis secara bersamaan. Bagaimana mungkin semua itu diabaikan hanya karena ada klub baru dengan koneksi Indonesia? Bagaimana mungkin kenangan-kenangan itu dilupakan begitu saja?
AC Milan adalah salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepakbola dunia. Tujuh trofi Liga Champions yang berkilauan seperti bintang di langit malam. Sembilan belas gelar Serie A yang tersusun rapi seperti buku-buku di perpustakaan tua. Dan deretan pemain legendaris yang namanya terukir abadi di pantheon sepakbola, seperti nama-nama pahlawan yang terukir di prasasti. Dari era Arrigo Sacchi dengan pressing total yang revolusioner, hingga masa keemasan Carlo Ancelotti yang mempesona seperti dongeng sebelum tidur.
Como 1907, meski memiliki sejarah panjang sejak 1907, baru saja kembali ke Serie A setelah puluhan tahun. Mereka sedang membangun fondasi, seperti orang yang baru mulai membangun rumah dari nol. Sementara Milan sudah memiliki istana yang megah, lengkap dengan taman-taman indah dan air mancur yang menyembur tinggi. Ini bukan meremehkan Como. Sungguh bukan. Aku justru mengapresiasi proyek mereka dengan sepenuh hati. Tetapi membandingkan keduanya seperti membandingkan perpustakaan berusia ratusan tahun dengan toko buku yang baru dibuka kemarin pagi.
San Siro bukan sekadar stadion. O, bukan. San Siro adalah kuil, tempat suci bagi jutaan Milanisti di seluruh dunia. Ketika lagu "Milan, Milan" berkumandang, ada getaran emosional yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti puisi yang terlalu indah untuk diterjemahkan. Ketika melihat lambang Diavolo di dada jersey, ada kebanggaan yang mengalir seperti sungai di musim hujan.
Identitas sebagai Milanisti sudah menjadi bagian dari diriku, seperti darah yang mengalir di pembuluh nadi. Ini membentuk cara aku melihat sepakbola: mengapresiasi keindahan permainan seperti mengapresiasi lukisan di museum, menghargai keanggunan taktik seperti menghargai puisi klasik, dan menuntut standar tinggi dalam setiap pertandingan. Milan mengajarkan bahwa sepakbola bukan hanya tentang menang, tapi tentang bagaimana cara menang dengan gaya, dengan keanggunan, dengan jiwa.
Aku paham argumentasi "mendukung klub milik Indonesia adalah bentuk nasionalisme." Aku mengerti logika itu. Tapi cinta terhadap klub sepakbola tidak seharusnya dipaksakan berdasarkan kepemilikan. Cinta adalah sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya, seperti bunga liar yang tumbuh di tepi jalan tanpa ditanam siapa pun. Jika logika ini diterapkan, apakah suporter Indonesia dari Manchester United, Liverpool, atau Barcelona semuanya salah? Tentu tidak.
Sepakbola adalah tentang koneksi emosional yang organik, bukan kewajiban berdasarkan paspor pemilik klub. Aku bisa mengapresiasi apa yang dilakukan Hartono bersaudara untuk Como. Itu luar biasa untuk sepakbola Italia dan kebanggaan Indonesia. Itu adalah pencapaian yang patut diacungi jempol. Tetapi aku tidak harus meninggalkan Milan karenanya. Aku tidak harus mengkhianati cinta pertamaku.
Menjadi fan Milan dalam beberapa tahun terakhir bukan hal mudah. Sungguh bukan. Setelah era keemasan dengan Berlusconi, Milan mengalami masa-masa kelam yang seperti malam tanpa bintang. Pergantian kepemilikan yang dramatis, performa inkonsisten yang membuat jantung berdebar, bahkan sempat absen dari Liga Champions. Tapi justru di saat-saat sulit inilah loyalitas diuji. Justru di saat-saat gelap inilah cahaya cinta sejati bersinar paling terang.
Saat Milan akhirnya menjuarai Scudetto 2021-22 setelah sebelas tahun penantian yang terasa seperti seabad, kebahagiaan itu terasa berbeda. Ini bukan sekadar merayakan kemenangan. Ini adalah merayakan kesetiaan yang terbayar, seperti petani yang akhirnya menuai hasil setelah bertahun-tahun menanam dengan penuh harap. Bagaimana mungkin aku meninggalkan klub ini tepat saat mereka bangkit kembali? Bagaimana mungkin aku pergi saat matahari pagi mulai menyingsing?
Yang sering dilupakan orang: mendukung Milan tidak berarti memusuhi Como. Tidak sama sekali. Aku dengan senang hati mengikuti perkembangan Como 1907, mengapresiasi pemain-pemain muda berbakat yang mereka rekrut, dan bangga saat mereka tampil baik di Serie A. Saat Milan bertemu Como, aku tetap mendukung Rossoneri dengan segenap jiwa raga, tapi aku juga senang melihat Como menunjukkan kualitas. Dunia ini cukup luas untuk menampung kedua cinta itu.
Dunia sepakbola cukup luas untuk menampung berbagai bentuk apresiasi. Aku bisa menjadi Milanisti sejati sambil tetap mengikuti dan mendukung Como dari kejauhan sebagai proyek kebanggaan Indonesia. Seperti anak yang mencintai ibunya dengan sepenuh hati, tetapi tetap menghormati bibinya dengan tulus.
Pada akhirnya, menjadi fan AC Milan adalah tentang hati. Ini tentang kenangan yang tak tergantikan, seperti album foto lama yang menguning di sudut lemari. Ini tentang identitas yang sudah terbentuk, seperti sidik jari yang unik dan tak akan pernah sama dengan orang lain. Dan ini tentang cinta yang tidak bisa begitu saja dialihkan, seperti sungai yang tidak bisa dipaksa mengubah alirannya.
Como 1907 adalah cerita baru yang menarik dan patut didukung. Tetapi Milan, o Milan, Milan adalah rumah. Milan adalah tempat pulang. Milan adalah pelabuhan di mana hati ini berlabuh.
Forza Milan, selamanya dan sepenuhnya. Tidak ada yang bisa mengubah itu, bahkan kepemilikan Indonesia di klub lain sekalipun. Karena cinta sejati tidak mengenal kompromi. Cinta sejati adalah pilihan yang diambil dengan sepenuh hati dan dipegang teguh sampai akhir waktu.