Mie Ayam Pilist

Di dalam mobil yang beraroma hujan, aku duduk sambil menahan kantuk sore yang basah. Di kursi depan, seorang perempuan berhijab menoleh setengah badan, tangannya mengangkat plastik berisi minuman merah menyala, seperti membawa pulang sepotong senja yang belum sempat padam. Tetes air di kaca jendela berbaris rapi, dan aku merasa perjalanan ini bukan sekadar pindah tempat, melainkan upaya kecil menyelamatkan hari agar tetap punya cerita.


Di sampingku, seorang anak kecil duduk dengan sabuk pengaman yang sedikit kebesaran untuk tubuhnya. Ia menggenggam boneka kelinci lusuh dengan ekspresi serius, seolah boneka itu adalah saksi penting hidupnya. Matanya menatapku, jujur dan terang, seperti halaman pertama buku yang belum ternodai salah eja. Aku tersenyum, sebab di usia itu, kebahagiaan rupanya cukup digenggam, tidak perlu dijelaskan.


Mobil terus melaju pelan, dan aku menyadari betapa adegan sederhana ini terasa lengkap. Minuman plastik, boneka kecil, hujan, dan kebersamaan yang tak diucapkan. Aku belajar bahwa keluarga bukan selalu soal percakapan panjang atau nasihat bijak, melainkan tentang hadir, dalam diam, sambil memastikan tidak ada yang kehausan dan tidak ada yang merasa sendirian.