Namanya Pak Dedi Kusnadi

Pagi ini beliau duduk di depan layar, headphone menutup telinga, seolah sedang menjaga agar suara dari Zoom tidak bocor ke kegaduhan dunia luar. Di Kanwil DJP Jawa Tengah II, cahaya pagi jatuh pelan di meja kerja, memantul di laptop yang menampilkan wajah-wajah kecil para peserta. Aku tahu, di balik layar itu, sedang berlangsung sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengisian SPT Tahunan. Ada kesungguhan seorang manusia yang memilih menjelaskan dengan sabar, satu per satu, lewat Coretax, seakan setiap klik adalah jembatan bagi orang lain agar tidak tersesat.

Aku satu kantor dengan beliau, dan pagi ini aku melihat bagaimana pengetahuan diperlakukan seperti amanah. Nada suaranya tenang, tidak tergesa, seperti guru-guru dalam kisah masa kecilku yang percaya bahwa murid akan paham pada waktunya. Sesekali ia tersenyum kecil, mungkin karena pertanyaan yang berulang, mungkin karena ingat bahwa dulu kami semua pernah bingung di titik yang sama.

Di ruangan yang sunyi itu, dengan kabel-kabel dan layar digital sebagai saksi, aku merasa sedang menyaksikan bentuk lain dari pengabdian. Bukan yang heroik, bukan yang ramai, melainkan yang setia dan konsisten. Pagi ini, lewat Zoom dan Coretax, beliau menunjukkan bahwa kerja bisa menjadi cerita yang sederhana namun bermakna. Dan aku bersyukur, karena berada cukup dekat untuk menyimpannya sebagai pelajaran diam-diam dalam hidupku sendiri.