Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Bukhari no. 1903)
Hadits ini adalah teguran keras sekaligus pengingat penting. Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga kita jika kita tidak menjaga lisan dan perbuatan kita. Puasa yang benar bukan hanya perut yang kosong, tapi jiwa yang bersih.
Para ulama menyebut ini sebagai "puasa anggota tubuh." Mata berpuasa dari memandang yang haram. Lisan berpuasa dari dusta, ghibah, namimah, dan kata-kata yang menyakiti. Telinga berpuasa dari mendengar hal-hal yang dilarang. Tangan berpuasa dari perbuatan yang melukai. Dan hati berpuasa dari dengki, sombong, dan niat yang kotor.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Puasa umum, yaitu menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Puasa khusus, yaitu menambahkan dengan menjaga panca indera dari dosa. Dan puasa paling khusus, yaitu menahan hati dari segala sesuatu selain Allah.
Ramadan adalah kesempatan untuk naik level. Jika tahun lalu kita hanya berpuasa di tingkat pertama, mari tahun ini kita coba naik ke tingkat kedua: jaga lisan kita dari berkata kasar, jaga mata kita dari konten haram, jaga telinga kita dari musik yang melalaikan.
Puasa yang sempurna adalah puasa yang mengubah akhlak kita. Bukan hanya selama Ramadan, tapi seterusnya. Itulah tujuan sesungguhnya dari syariat puasa: mencetak pribadi yang bertakwa.
Hadits ini adalah teguran keras sekaligus pengingat penting. Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga kita jika kita tidak menjaga lisan dan perbuatan kita. Puasa yang benar bukan hanya perut yang kosong, tapi jiwa yang bersih.
Para ulama menyebut ini sebagai "puasa anggota tubuh." Mata berpuasa dari memandang yang haram. Lisan berpuasa dari dusta, ghibah, namimah, dan kata-kata yang menyakiti. Telinga berpuasa dari mendengar hal-hal yang dilarang. Tangan berpuasa dari perbuatan yang melukai. Dan hati berpuasa dari dengki, sombong, dan niat yang kotor.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Puasa umum, yaitu menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Puasa khusus, yaitu menambahkan dengan menjaga panca indera dari dosa. Dan puasa paling khusus, yaitu menahan hati dari segala sesuatu selain Allah.
Ramadan adalah kesempatan untuk naik level. Jika tahun lalu kita hanya berpuasa di tingkat pertama, mari tahun ini kita coba naik ke tingkat kedua: jaga lisan kita dari berkata kasar, jaga mata kita dari konten haram, jaga telinga kita dari musik yang melalaikan.
Puasa yang sempurna adalah puasa yang mengubah akhlak kita. Bukan hanya selama Ramadan, tapi seterusnya. Itulah tujuan sesungguhnya dari syariat puasa: mencetak pribadi yang bertakwa.