Pulang dari Pemakaman

Hamparan sawah ini terbentang luas seperti dada yang mencoba menampung terlalu banyak perasaan. Hijau padi muda bergoyang pelan di bawah langit yang kelabu, seakan tahu bahwa hari ini aku datang dengan hati yang berat. Sejak pagi aku menghadiri begitu banyak pemakaman, menyaksikan tanah kembali menerima apa yang dulu dipinjamkan. Ada doa-doa yang melayang, ada tangis yang tertahan, ada pelukan yang tak mampu menjahit kehilangan. Namun yang paling menggangguku justru kekosongan itu, perasaan aneh yang tak bisa kuterjemahkan, seperti awan gelap yang menggantung tanpa hujan.

Aku berjalan di pematang sempit, membiarkan langkahku mengikuti garis lurus di antara padi. Hidup, kupikir, mungkin sesederhana ini. Tumbuh, menguning, dipanen, lalu selesai. Tetapi mengapa setiap perpisahan selalu terasa seperti kejutan, seolah kita lupa bahwa akhir adalah satu-satunya janji yang tak pernah ingkar. Angin menyentuh wajahku, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua dari sekadar kesedihan. Mungkin ini yang disebut sunyi, ketika hati tidak menangis, namun juga tidak benar-benar utuh.

Aku menatap langit yang menggulung berat di atas sawah, dan untuk pertama kalinya hari ini, aku tidak mencoba memahami apa pun. Kekosongan itu kubiarkan tinggal sebentar, seperti tamu yang tak diundang namun tak bisa langsung diusir. Di tengah hijau yang luas dan awan yang muram, aku sadar bahwa hidup tetap berjalan, padi tetap tumbuh, dan tanah tetap setia menerima. Barangkali yang aneh itu bukan kematian, melainkan betapa kita tak pernah benar-benar siap untuk kehilangan, meski tahu sejak awal bahwa kita semua hanya sedang menunggu giliran pulang.