Hari pertama Ramadan selalu terasa seperti membuka halaman baru yang masih bersih, belum ternoda oleh coretan apa pun. Aku berdiri di depan rak buku, memandangi deretan pikiran manusia yang tersusun rapi, sementara di atasnya mushaf Al Qur’an Al Karim bersemayam tenang, seolah menjadi mahkota dari segala pengetahuan. Buku-buku itu berbicara tentang masa depan, tentang runtuhnya peradaban, tentang rahasia genom dan keluhuran akal. Namun pagi ini aku merasa, sebelum memahami dunia, aku harus lebih dulu menertibkan diriku sendiri.
Aku teringat nasihat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa ketika berpuasa, pendengaran, penglihatan, dan lisan pun harus ikut berpuasa dari dusta dan dosa. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi beratnya seperti menahan langit agar tidak runtuh. Betapa mudahnya mata tergelincir oleh hal remeh, telinga terpikat kabar yang tak perlu, dan lidah terlanjur mengucap sesuatu yang melukai. Puasa hari ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan sunyi untuk menjaga seluruh pintu diri agar tidak sembarangan terbuka.
Di hadapan rak itu aku merasa kecil, seperti murid yang baru belajar mengeja huruf pertama. Ramadan mengajarkanku kewibawaan yang tidak berisik dan ketenangan yang tidak perlu diumumkan. Jangan sampai hari puasaku sama saja dengan hari biasa, begitu pesan itu bergema dalam benakku. Maka hari ini aku ingin menjadikannya berbeda, dengan lebih banyak diam daripada bicara, lebih banyak menahan daripada meluapkan, dan lebih banyak membaca ayat-ayat langit daripada sekadar menumpuk wacana dunia.