Ramadan sebagai Madrasah Akhlak

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Puasa adalah perisai. Jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan jangan pula berbuat bodoh. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa." (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Nabi menyebut puasa sebagai "junnah" yaitu perisai. Perisai dalam arti penjaga dari dosa, bukan senjata untuk menyerang orang lain. Tapi seperti halnya perisai yang bisa rusak jika tidak dirawat, puasa pun bisa kehilangan fungsinya jika pemiliknya tidak menjaga lisan dan perbuatannya.

Menarik bahwa Nabi mengajarkan kalimat "Inni shaim" artinya aku sedang berpuasa, sebagai respons ketika ada yang mengajak berkelahi. Ini bukan untuk dipamerkan, tapi sebagai pengingat bagi diri sendiri. Ketika kita hampir terpancing emosi, ucapkan dalam hati: aku sedang berpuasa, aku tidak boleh merusak puasaku dengan kemarahan ini.

Ramadan adalah madrasah, yaitu sekolah akhlak. Selama sebulan kita dilatih untuk menahan diri. Menahan dari makan minum mengajarkan kita menahan nafsu fisik. Menahan lisan dari perkataan keji mengajarkan kita menahan nafsu emosi. Menahan hati dari dengki mengajarkan kita menahan nafsu jiwa.

Hasil dari madrasah ini seharusnya tampak setelah Ramadan. Seorang yang telah sebulan penuh berlatih sabar, seharusnya menjadi lebih sabar di bulan-bulan berikutnya. Jika setelah Ramadan akhlak kita kembali seperti semula, maka kita belum lulus dari madrasah puasa.