Riak yang Menenggelamkan Hati

Orang-orang itu berjalan di antara hari-hari seperti bayangan yang lupa pada matahari yang melahirkannya. Mereka melemparkan kata-kata kasar seperti batu ke sungai yang tenang, tak pernah menoleh untuk melihat riak yang diam-diam menenggelamkan hati orang lain. Dalam mulut mereka, bahasa kehilangan doa dan berubah menjadi debu yang beterbangan di lorong-lorong sore yang pengap.


Mereka bekerja dengan gerak yang malas dan jiwa yang setengah terjaga, seolah waktu adalah kain tua yang bisa disobek dan dibuang sesuka hati. Mereka hidup seperti dunia ini adalah satu-satunya perjamuan, duduk rakus di meja yang fana, tanpa pernah percaya bahwa di balik tirai malam ada pengadilan sunyi yang menunggu dengan sabar, entah berupa cahaya yang mengampuni atau api yang tak pernah padam.


Dan di antara semua itu, bumi tetap berputar dengan kesabaran seorang ibu tua, menyimpan rahasia tentang surga dan neraka di lipatan angin, sementara manusia terus bercakap kasar kepada sesamanya, lupa bahwa setiap kata adalah benih yang suatu hari akan tumbuh kembali di ladang keabadian.