Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga." (HR. Ibnu Majah no. 1690, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
Hadits ini adalah peringatan keras yang perlu kita renungkan. Puasa yang hanya menghasilkan lapar dan dahaga, tanpa pahala dan tanpa pengampunan, adalah puasa yang gagal di mata Allah.
Kapan puasa menjadi seperti itu? Ketika seseorang berpuasa tapi lisannya terus menggunjing orang lain. Ketika ia berpuasa tapi matanya terus memandang yang haram. Ketika ia berpuasa tapi tidak menjaga shalat lima waktu. Ketika ia berpuasa tapi hartanya penuh dengan yang haram. Ketika ia berpuasa tapi hatinya penuh dengki dan iri kepada sesama.
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa puasa yang sempurna adalah yang disertai dengan penjagaan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Seorang yang benar-benar berpuasa akan merasakan perubahan dalam sikapnya: lebih sabar, lebih lemah lembut, lebih mudah memaafkan.
Maka hadits ini bukan untuk membuat kita putus asa, tapi untuk mendorong kita memperbaiki kualitas puasa. Tanya diri sendiri: apakah puasaku tahun ini lebih baik dari tahun lalu? Apakah ada perubahan nyata dalam akhlakku di bulan Ramadan?
Puasa yang sukses bukan yang paling lama atau paling berat, tapi yang paling mampu mengubah kita menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Hadits ini adalah peringatan keras yang perlu kita renungkan. Puasa yang hanya menghasilkan lapar dan dahaga, tanpa pahala dan tanpa pengampunan, adalah puasa yang gagal di mata Allah.
Kapan puasa menjadi seperti itu? Ketika seseorang berpuasa tapi lisannya terus menggunjing orang lain. Ketika ia berpuasa tapi matanya terus memandang yang haram. Ketika ia berpuasa tapi tidak menjaga shalat lima waktu. Ketika ia berpuasa tapi hartanya penuh dengan yang haram. Ketika ia berpuasa tapi hatinya penuh dengki dan iri kepada sesama.
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa puasa yang sempurna adalah yang disertai dengan penjagaan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Seorang yang benar-benar berpuasa akan merasakan perubahan dalam sikapnya: lebih sabar, lebih lemah lembut, lebih mudah memaafkan.
Maka hadits ini bukan untuk membuat kita putus asa, tapi untuk mendorong kita memperbaiki kualitas puasa. Tanya diri sendiri: apakah puasaku tahun ini lebih baik dari tahun lalu? Apakah ada perubahan nyata dalam akhlakku di bulan Ramadan?
Puasa yang sukses bukan yang paling lama atau paling berat, tapi yang paling mampu mengubah kita menjadi hamba Allah yang lebih baik.