Pada suatu malam Februari, tanggal 7, lapangan hijau menjelma panggung kecil bagi sebuah bahasa yang tak diucapkan. Di sanalah Viktor Gyökeres berlari, mencetak gol, lalu menutup wajahnya dengan tangan, seolah ia malu pada sorak-sorai, atau mungkin justru sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam.
Lawan malam itu adalah Sunderland. Klub tua, dengan sejarah panjang seperti perpustakaan berdebu di kota kecil. Namun yang paling diingat orang bukan hanya hasil pertandingan, melainkan selebrasi itu: topeng sunyi yang kembali diperagakan Gyökeres, tanpa teriakan, tanpa dada dibusungkan, tanpa menunjuk ke langit.
Ia menutup wajahnya.
Di sepak bola modern, selebrasi sering seperti iklan berjalan, penuh pesan, penuh ego, penuh niat viral. Tapi selebrasi Gyökeres justru seperti kalimat pendek dalam novel yang bagus: singkat, hemat, dan membekas. Ia tak berkata apa-apa, namun semua orang merasa sedang diajak memahami sesuatu.
Mungkin itu simbol “pembunuh senyap”, seperti yang sering dibisiki para komentator. Striker yang datang tanpa gaduh, bekerja tanpa banyak basa-basi, lalu meninggalkan papan skor dalam keadaan berubah. Atau mungkin itu cara Gyökeres berkata pada dunia bahwa gol, seperti hidup, tak selalu perlu dirayakan dengan berisik.
Di malam itu, di bulan yang sering membuat orang melankolis, selebrasi tersebut terasa seperti pengakuan diam-diam: bahwa sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah, tapi juga tentang bagaimana seseorang memilih menjadi dirinya sendiri di tengah sorotan ribuan mata.
Gyökeres menutup wajahnya, namun justru di situlah ia terlihat paling jelas.
Karena kadang, yang paling jujur dari manusia adalah gerakan kecil yang tak ia jelaskan kepada siapa pun.