Malam itu langit seperti memberi jalan bagi warna merah untuk menjadi raja. Lampion-lampion bergantung rapat di atas kepala kami, menyala bulat dan hangat, seolah ribuan matahari kecil sepakat turun lebih dekat ke bumi. Aku berdiri di bawahnya sambil menahan tawa yang tak mau diam, sebab di atas pundakku, seorang putri kecil sedang merasa dirinya lebih tinggi dari dunia.
Iliana bertengger di bahuku dengan percaya diri yang hanya dimiliki anak-anak. Tangannya menggenggam mainan berlampu warna-warni, yang berputar seperti galaksi kecil dalam genggamannya. Ia tertawa lepas, sementara aku mengangkat jempol ke arah kamera, bukan untuk gaya, melainkan sebagai pengakuan bahwa hidup, setidaknya malam itu, sedang sangat baik padaku. Rambutnya jatuh di keningku, seolah ingin memastikan aku tidak lupa bahwa kebahagiaan punya berat, dan berat itu sedang kupanggul dengan senang hati.
Di tanganku yang lain, kantong plastik berisi jajanan bergoyang pelan. Ada saus yang masih hangat, ada gorengan yang aromanya menembus keramaian. Sederhana, mungkin. Namun di antara klakson motor dan suara orang-orang yang berdesakan, aku merasa seperti lelaki paling kaya. Bukan karena isi dompet, melainkan karena isi pundak dan isi hati.
Di sampingku, seorang pria memegang balon berbentuk bebek kuning yang mengilap. Wajahnya datar, mungkin lelah, mungkin hanya sedang berpikir tentang besok. Di belakang kami, arus kendaraan mengalir tanpa peduli pada lampion, pada tawa anak kecil, atau pada seorang ayah yang diam-diam sedang menyimpan momen. Kota ini memang jarang berhenti. Tapi malam itu, aku memaksa waktu untuk melambat.
Iliana menepuk-nepuk kepalaku pelan, mungkin mengira aku kuda, mungkin mengira aku singgasana. Aku tak keberatan menjadi apa saja, selama ia tertawa seperti itu. Dari atas bahuku, ia melihat dunia yang lebih luas, dan dari bawahnya, aku belajar melihat dunia dengan cara yang lebih sederhana. Kami saling meminjam ketinggian.
Aku tahu, lampion-lampion ini suatu hari akan dipadamkan. Keramaian ini akan bubar. Plastik jajanan akan dibuang. Namun ingatan tentang malam ketika aku menjadi bahu bagi mimpinya, dan ia menjadi alasan bagi senyumku, akan tinggal lebih lama dari cahaya mana pun. Dan jika kelak ia lupa, biarlah aku yang mengingatnya, bahwa pernah ada malam merah menyala ketika kami merasa dunia cukup hanya dengan tertawa di bawah lampion.