Sidik Jari di Kaca Mobil

Ia berdiri di balik kaca mobil yang setengah turun, kedua tangannya mencengkeram tepi jendela seperti sedang mengintip dunia dari balik batas yang tipis. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya separuh terpantul di kaca, membuatnya tampak seperti dua anak sekaligus, yang satu nyata, yang satu bayangan. Aku memandangnya dari luar, dan tiba-tiba merasa sedang melihat masa kecil yang sedang belajar penasaran.

Di dalam mobil, Nana duduk tenang di kursi depan, wajahnya samar tertutup masker, seperti penjaga sunyi yang memastikan segalanya baik-baik saja. Iliana menempelkan wajahnya ke kaca, meninggalkan bekas napas dan sidik jari kecil yang tidak akan lama bertahan. Tapi justru di situlah keindahannya. Dunia anak-anak memang penuh jejak sementara, namun kesannya sering menetap paling lama di hati orang dewasa.

Aku tersenyum tanpa sadar. Dari balik jendela itu, Iliana seolah berkata bahwa hidup adalah soal melihat, meski belum sepenuhnya boleh keluar. Tentang ingin tahu, tanpa harus selalu melangkah jauh. Dan aku, sebagai bapaknya, belajar lagi bahwa tugasku bukan membuka semua jendela, melainkan memastikan ia aman saat suatu hari memilih menurunkannya sendiri.