Sore yang Tidak Terburu-buru

Langit sore itu menggantung rendah, kelabu, seperti sedang menimbang-nimbang apakah hujan layak diturunkan atau tidak. Dari kejauhan kulihat Nana berjalan di depanku, menggenggam tangan Iliana yang melangkah kecil-kecil di aspal basah. Lampu warung Nasi Bebek Sanjay menyala terang, kontras dengan awan yang murung, seolah berkata bahwa di tengah cuaca ragu-ragu, selalu ada tempat yang yakin pada rasanya sendiri.

Iliana melompat menghindari genangan air, tertawa kecil, sementara Nana melangkah tenang, sabar, seperti seseorang yang tahu ke mana arah pulang. Aku mengikuti mereka dari belakang, menikmati pemandangan sederhana itu dengan perasaan penuh, seperti membaca ulang halaman favorit dari buku lama. Bau minyak panas dan bumbu hitam Madura mulai terasa, bercampur dengan aroma tanah basah, membuat perut dan ingatan sama-sama tergerak.

Kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar. Kadang ia hanya berjalan pelan di depanku, memakai gamis sederhana, menggandeng tangan kecil yang percaya penuh. Di bawah langit abu-abu dan papan nama warung yang menyala, aku merasa hidup sedang baik hati, memberiku keluarga, makanan hangat, dan alasan untuk pulang dengan hati yang kenyang.