SPBU Manahan

Malam itu hujan baru saja selesai menunaikan tugasnya, meninggalkan aspal mengilap seperti cermin murah yang memantulkan cahaya dengan jujur. Di tengah gelap yang luas, gerobak kecil bertuliskan Pentol Galaxy bersinar seperti kapal luar angkasa yang tersesat dan memilih mendarat di parkiran ruko. Lampunya terang, warnanya ceria, seolah menolak tunduk pada muramnya langit. Aku berdiri agak jauh, menikmati pemandangan sederhana yang terasa seperti adegan film tentang orang-orang biasa yang diam-diam berani bermimpi.


Di depan gerobak itu, seorang anak kecil berdiri menghadap etalase, tubuhnya kecil dibandingkan papan nama yang besar dan percaya diri. Tiga bangku merah kosong menunggu pelanggan, setia seperti sahabat lama yang tak pernah bosan menanti. Penjualnya berdiri tenang di balik kaca, tangannya sibuk, wajahnya sabar. Aku membayangkan uap kuah hangat naik perlahan, membawa aroma bawang goreng dan saus kacang yang sanggup mengundang siapa saja yang hatinya sedang rapuh atau perutnya sedang kosong.


Aku tersenyum sendiri. Di kota yang sering berisik oleh ambisi, gerobak kecil itu mengajarkanku tentang ketekunan yang tidak banyak bicara. Tentang cahaya yang tidak perlu tinggi untuk terlihat. Tentang anak kecil yang percaya bahwa di balik etalase sederhana, ada kebahagiaan yang bisa dibeli dengan uang receh dan dinikmati tanpa syarat. Dan aku, malam itu, merasa hidup cukup hanya dengan berdiri di sana, menyaksikan semesta kecil bernama pentol berputar pelan di bawah langit yang masih basah.