Wombats ke Solo

Iliana, anakku, duduk di hadapanku seperti jeda yang disengaja Tuhan. Di lorong itu, lampu-lampu kecil berkilau lelah, dan aku melihat masa kecilnya berkumpul rapi di matanya. Ia memandangi cangkir hijau seolah sedang membaca surat dari masa depan yang belum pandai mengeja namanya sendiri.

Wombats, kedai kopi dari Yogyakarta yang singgah ke Surakarta, menjadi penanda perjalanan kecil kami. Dari kota ke kota, dari secangkir ke secangkir, aku belajar bahwa berpindah tidak selalu berarti pergi jauh. Kadang ia hanya berarti berani datang, seperti Wombats, dan seperti Iliana yang berani mempercayai dunia lewat tatapan sunyinya.

Di meja hitam itu ada remah kelengkeng dan ada harapan yang tidak berisik. Aku menyadari, menjadi orang tua adalah seni memelankan langkah agar bisa menyamai irama anak. Iliana mengajarkanku bahwa kebahagiaan bisa duduk tenang, memegang cangkir, dan merasa cukup di kota yang sedang belajar menyambut.