Di pelataran Candi Merak, aku berdiri bersama keluargaku, seolah waktu memilih berjalan lebih pelan dari biasanya. Batu-batu tua itu diam, tetapi seperti menyimpan cerita panjang yang tak pernah selesai. Di antara ukiran yang telah bertahan dari hujan dan panas, kami mengabadikan diri dalam satu bingkai, kecil di hadapan sejarah, namun penuh arti bagi kami sendiri.
Aku menatap sekeliling, lalu kembali pada mereka yang berdiri di sisiku. Ada rasa hangat yang tak berasal dari matahari, melainkan dari kebersamaan yang sederhana. Kami mungkin hanya datang sebentar, sekadar singgah dan mengambil gambar, tetapi momen itu terasa lebih dari sekadar perjalanan. Ia seperti jeda kecil yang mengingatkanku bahwa hidup bukan hanya tentang tujuan, tetapi tentang siapa yang berjalan bersamaku.
Dan suatu hari nanti, ketika langkah kami telah menjauh dari tempat ini, mungkin yang tersisa bukanlah detail candi atau langit hari itu. Yang akan tinggal adalah ingatan tentang tawa, tentang kedekatan yang tak dibuat-buat, dan tentang bagaimana di antara batu-batu yang bisu, aku menemukan suara paling jujur dari arti sebuah keluarga.