Hudan Lin Naas

Allah berfirman bahwa Al-Qur'an adalah "hudan lin naas" yaitu petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185). Tapi pernahkah kita bertanya: sudahkah kita benar-benar menjadikannya petunjuk, atau kita hanya membacanya tanpa memahami?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim no. 804)

Hadits ini memberikan motivasi besar untuk membaca Al-Qur'an. Setiap huruf yang kita baca akan menjadi modal syafaat di hari kiamat. Rasulullah juga bersabda: "Setiap huruf dari Al-Qur'an yang dibaca akan mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat." (HR. Tirmidzi no. 2910, dinyatakan shahih)

Namun Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca, tapi juga untuk dipahami dan diamalkan. Allah menurunkannya sebagai petunjuk, artinya ia harus memandu langkah kita. Al-Qur'an yang hanya dibaca tanpa dipahami seperti peta yang dilipat dan disimpan di laci: ada, tapi tidak memandu perjalanan.

Ada tiga level interaksi dengan Al-Qur'an yang ideal: tilawah yaitu membaca dengan tartil dan benar, tadabbur yaitu merenungkan maknanya, dan tathbiq yaitu mengamalkannya dalam kehidupan. Di bulan Ramadan ini, mari kita naiki tiga tangga itu. Perbanyak tilawah, targetkan minimal satu juz per hari. Luangkan waktu untuk tadabbur, baca terjemahan atau tafsir ringkas. Dan tekadkan diri untuk mengamalkan satu pelajaran yang kita temukan dari Al-Qur'an setiap harinya.