Idul Fitri Bukan Akhir Perjalanan

Allah Ta'ala berfirman: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah tidak mengenal musim. Tidak ada libur dari ketaatan kepada Allah. Ramadan adalah bulan pelatihan, tapi hasilnya harus bertahan sepanjang tahun.

Para salaf terdahulu sangat khawatir jika amal Ramadan mereka tidak diterima. Mereka berdoa enam bulan sebelum Ramadan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan mulia itu, dan enam bulan sesudahnya agar Allah menerima amal Ramadan mereka.

Tanda diterimanya amal Ramadan adalah kondisi kita setelah Ramadan. Jika setelah Ramadan kita menjadi lebih baik, lebih rajin shalat, lebih menjaga lisan, lebih sering bersedekah, lebih dekat dengan Al-Qur'an, maka itu adalah tanda yang baik bahwa Ramadan kita berhasil.

Namun jika setelah Ramadan kita kembali ke kebiasaan lama, meninggalkan shalat sunnah, kembali ke konten-konten haram, kembali berkata kasar, maka ada yang salah dalam cara kita ber-Ramadan.

Rasulullah bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit." (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783). Maka jangan berhenti setelah Ramadan. Pertahankan minimal satu kebiasaan baik yang kita bangun selama Ramadan, entah itu tilawah Al-Qur'an, shalat dhuha, sedekah harian, atau shalat malam. Karena tujuan Ramadan bukan menghasilkan Muslim Ramadan, tapi Muslim sejati sepanjang tahun.