Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Tiga hal yang dilakukan Nabi di sepuluh hari terakhir Ramadan, dan ketiganya mengandung pelajaran berharga.
Pertama, "syaddal mi'zar" yaitu mengencangkan ikat pinggang. Ini ungkapan Arab yang berarti bersungguh-sungguh, tidak bermalas-malasan, siap bekerja keras. Di saat banyak orang justru kelelahan di pertengahan Ramadan, Nabi semakin bersemangat di penghujungnya.
Kedua, "ahya lailatahu" yaitu menghidupkan malamnya. Artinya Nabi tidak tidur atau sangat sedikit tidur di malam-malam ini, mengisinya dengan ibadah. Shalat, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa hingga fajar.
Ketiga, "iqazha ahlihi" yaitu membangunkan keluarganya. Nabi tidak egois dalam ibadah. Ia membangunkan istri-istrinya agar mereka pun tidak melewatkan keberkahan malam-malam terakhir Ramadan.
Inilah contoh teladan yang sempurna. Seorang suami yang tidak hanya memikirkan pahala dirinya sendiri, tapi juga mengajak keluarganya untuk meraih malam Lailatul Qadar bersama.
Di sepuluh hari terakhir ini, jadikan kebiasaan Nabi sebagai panduan. Kurangi tidur, perbanyak ibadah, dan ajak keluarga untuk bangun dan beribadah bersama. Karena mungkin saja, Lailatul Qadar sedang menunggu kita di salah satu malam ini.
Tiga hal yang dilakukan Nabi di sepuluh hari terakhir Ramadan, dan ketiganya mengandung pelajaran berharga.
Pertama, "syaddal mi'zar" yaitu mengencangkan ikat pinggang. Ini ungkapan Arab yang berarti bersungguh-sungguh, tidak bermalas-malasan, siap bekerja keras. Di saat banyak orang justru kelelahan di pertengahan Ramadan, Nabi semakin bersemangat di penghujungnya.
Kedua, "ahya lailatahu" yaitu menghidupkan malamnya. Artinya Nabi tidak tidur atau sangat sedikit tidur di malam-malam ini, mengisinya dengan ibadah. Shalat, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa hingga fajar.
Ketiga, "iqazha ahlihi" yaitu membangunkan keluarganya. Nabi tidak egois dalam ibadah. Ia membangunkan istri-istrinya agar mereka pun tidak melewatkan keberkahan malam-malam terakhir Ramadan.
Inilah contoh teladan yang sempurna. Seorang suami yang tidak hanya memikirkan pahala dirinya sendiri, tapi juga mengajak keluarganya untuk meraih malam Lailatul Qadar bersama.
Di sepuluh hari terakhir ini, jadikan kebiasaan Nabi sebagai panduan. Kurangi tidur, perbanyak ibadah, dan ajak keluarga untuk bangun dan beribadah bersama. Karena mungkin saja, Lailatul Qadar sedang menunggu kita di salah satu malam ini.