I'tikaf Nabi

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istri beliau beri'tikaf setelah beliau wafat." (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

I'tikaf adalah ibadah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Nabi melakukannya setiap Ramadan, khususnya di sepuluh hari terakhir, tanpa pernah melewatkan satu Ramadan pun.

Apa rahasia i'tikaf? I'tikaf adalah uzlah, yaitu memisahkan diri dari kesibukan dunia untuk fokus total kepada Allah. Selama i'tikaf, kita meninggalkan urusan bisnis, urusan sosial, keramaian dunia, dan bahkan kenyamanan rumah sendiri. Kita hanya duduk di rumah Allah, mengisi waktu dengan ibadah.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa i'tikaf bertujuan untuk memperkuat hubungan hati dengan Allah dan memutus segala yang menghalanginya. Ketika seseorang duduk di masjid jauh dari layar ponsel, jauh dari rapat bisnis, jauh dari hiruk pikuk kehidupan, saat itulah hati mulai menemukan ketenangannya kembali.

I'tikaf juga merupakan cara terbaik untuk berburu Lailatul Qadar. Dengan menetap di masjid sepuluh hari terakhir, kita tidak akan melewatkan satu pun malam ganjil yang berpotensi menjadi Lailatul Qadar. Jika tidak bisa i'tikaf penuh sepuluh hari, i'tikaf satu malam atau beberapa jam pun memiliki nilai ibadah. Yang penting adalah niat dan kesungguhan untuk menggunakan waktu itu untuk Allah.