
Image credit: Giuliano Domenichini via Getty Images
Di berbagai budaya dunia, gerhana bulan kerap disertai mitos dan kepercayaan mistis. Berikut beberapa contoh legenda yang populer:
- Tradisi Islam: Gerhana bulan pada masa Nabi Muhammad bertepatan dengan wafatnya putra beliau, Ibrahim. Sebagian orang mengira gerhana itu terjadi karena wafatnya Ibrahim. Namun beliau menegaskan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah dan tidak berkaitan dengan kelahiran atau kematian seseorang. Kisah ini sering dikutip untuk meluruskan anggapan mistis tentang bulan merah.
- Tiongkok kuno: Warga Tiongkok percaya gerhana terjadi karena seekor naga langit mencoba menelan Bulan. Untuk menyelamatkan Bulan, masyarakat berkumpul dan membunyikan genderang, panci, serta alat musik lain agar sang naga ketakutan dan mengeluarkan kembali Bulan.
- Mitologi Hindu: Dalam cerita Ramayana, diceritakan Rahu, iblis yang meminum air keabadian, dikejar oleh Dewa Vishnu. Setelah dipenggal, kepala Rahu mengambang mengejar Matahari dan Bulan untuk balas dendam. Karena itulah masyarakat India kuno menafsirkan gerhana sebagai Rahu yang menelan satu atau kedua benda langit tersebut.
- Peradaban Inca: Suku Inca di Amerika Selatan meyakini gerhana bulan disebabkan oleh serangan jaguar raksasa terhadap Bulan. Mereka sangat takut bahwa setelah menyantap Bulan, jaguar tersebut akan turun ke Bumi memangsa manusia. Mitos ini berkaitan langsung dengan munculnya warna merah (blood moon), yang dihubungkan dengan binatang buas dan bahaya.
- Bangsa Maya: Peradaban Maya memandang gerhana bulan sebagai pertanda buruk. Bulan merah sering dikaitkan dengan perang, bencana, atau kematian penguasa. Mereka memiliki catatan astronomi yang cukup akurat untuk memprediksi gerhana, meski tetap diselimuti makna spiritual.
- Mitologi Nordik: Kisah dua serigala raksasa, Sköll dan Hati, yang mengejar Matahari dan Bulan. Ketika salah satu berhasil menangkap Bulan, terjadilah gerhana. Peristiwa tersebut dipandang sebagai bagian dari rangkaian tanda menuju Ragnarök, masa kehancuran dalam kosmologi Nordik. Narasi ini menggambarkan gerhana sebagai simbol ancaman kosmis.
- Budaya Jawa: Menurut legenda Jawa, gerhana dikaitkan dengan Batara Kala, sosok raksasa menakutkan. Dikisahkan Batara Kala terus berusaha menelan Dewata Matahari (Batara Surya) dan Bulan (Batara Candra) akibat dendam. Untuk menyelamatkan kedua dewa tersebut, penduduk diinstruksikan memukul lesung dan alat keras saat gerhana, sebagai tanda Batara Kala muncul dan agar rahasia dewa bisa lolos. Hingga kini tradisi memukul lesung saat gerhana masih dijalankan sebagian masyarakat sebagai warisan mitos ini.
- Suku Batammaliba (Afrika Barat): Berbeda dari kisah mitos ketakutan, suku Batammaliba di Togo dan Benin memandang gerhana sebagai simbol pertikaian antara Matahari dan Bulan. Mereka melihat fenomena ini sebagai pengingat agar manusia menghentikan konflik dan berdamai, mencerminkan pertobatan langit.
- Mitos Global: Secara umum di banyak budaya, warna bulan yang memerah saat gerhana sering dihubungkan dengan pertanda bencana atau pertumpahan darah. Ada anggapan lama bahwa blood moon menandakan kejatuhan raja, peperangan, atau kemalangan besar. Namun mitos-mitos ini bersifat universal dan tidak berdasar ilmiah.
Konflik yang dimulai dengan serangan udara bersama oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di Iran akhir Februari 2026 kini telah berkembang menjadi perang terbuka, dengan serangan dan pembalasan berkelanjutan di berbagai wilayah kawasan Timur Tengah. dalam beberapa hari terakhir, serangan udara dan gelombang balasan rudal serta drone oleh pihak Iran menunjukkan intensifikasi konflik yang signifikan. Korban jiwa terus bertambah serta dampak regional semakin nyata hari demi hari.
Namun, pemeriksaan fakta menunjukkan tidak ada hubungan otentik antara fenomena alam ini dan peristiwa politik manapun. Geo News (Pakistan) menegaskan bahwa semua klaim konspirasi tersebut “tak memiliki bukti autentik” dan hanya kebetulan biasa. Demikian pula, analis menekankan bahwa perkembangan geopolitik dan peristiwa langit berlangsung secara terpisah; gerhana bulan total adalah peristiwa alamiah yang bisa dihitung sebelumnya. Oleh karena itu, walaupun blood moon sering dicampur-adukkan dengan mitos atau ramalan, secara ilmiah ia sama sekali tidak menandakan apapun terkait konflik Israel-Iran.
Di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran yang memicu ketegangan kawasan, sebagian orang kembali memandang blood moon dengan perasaan campur aduk. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali dunia memasuki fase genting, manusia cenderung mencari makna pada langit. Bulan yang memerah menjadi simbol yang mudah ditafsirkan sebagai pertanda perubahan, peringatan, atau bahkan ancaman. Padahal secara ilmiah, gerhana bulan total adalah siklus alam yang terukur dan dapat diprediksi.
Namun, simbol memiliki kekuatan psikologis. Dalam situasi perang, kecemasan kolektif sering menemukan cermin pada fenomena alam. Konflik yang melibatkan kepentingan geopolitik besar bukan hanya soal strategi militer, tetapi juga menyangkut stabilitas regional, keselamatan warga sipil, dan masa depan generasi berikutnya. Ketika berita tentang serangan dan balasan memenuhi ruang informasi, bulan merah di langit terasa seperti latar dramatis bagi pergolakan di bumi.
Dalam konteks ini, penting untuk memisahkan antara makna simbolik dan realitas faktual. Gerhana tidak menyebabkan perang, dan perang tidak dipicu oleh peristiwa astronomi. Tetapi keduanya bisa bertemu dalam ruang imajinasi manusia. Di situlah refleksi menjadi penting. Fenomena langit mengingatkan kita bahwa bumi hanyalah satu bagian kecil dari jagat raya yang luas, dan bahwa konflik manusia sering kali lahir dari batas-batas yang kita buat sendiri.
Di atas segalanya, harapan tetap menjadi bagian yang tidak boleh hilang. Harapan agar ketegangan mereda, agar dialog menggantikan dentuman senjata, dan agar masyarakat sipil tidak terus menjadi korban. Harapan agar dunia baik baik saja, di tengah segala perbedaan dan kepentingan yang saling bertabrakan.
Dan di antara doa yang dipanjatkan banyak orang di berbagai penjuru, terselip pula harapan agar rakyat Palestina memperoleh kehidupan yang damai, bermartabat, dan kemerdekaan yang telah lama diperjuangkan. Seperti bulan yang kembali terang setelah gerhana berlalu, semoga masa gelap konflik pun memberi jalan bagi fajar yang lebih adil dan menenangkan bagi seluruh umat manusia.
Daftar Pustaka
Dobrijevic, D. (2026, March 2). Total lunar eclipse March 3 2026: Live updates. Space.com.
https://www.space.com/news/live/total-lunar-eclipse-blood-moon-march-3-2026-live-updates
Fatima, S. (2026, March 2). Speculation rises on social media linking Middle East tensions to upcoming ‘blood moon’. Minute Mirror.
https://minutemirror.com.pk/speculation-rises-on-social-media-linking-middle-east-tensions-to-upcoming-blood-moon-514375/
Geo News Digital Desk. (2026, March 1). Viral doomsday claims link ‘Blood Moon’ to Middle East conflict: Here’s the truth. Geo.tv.
https://www.geo.tv/latest/653459-viral-doomsday-claims-link-blood-moon-to-middle-east-conflict-heres-the-truth
Heidner, N. (2025, September 7). Turning point, apocalypse or renewal: what will the blood moon bring to Europe? Euronews.
https://www.euronews.com/culture/2025/09/07/turning-point-apocalypse-or-renewal-what-will-the-blood-moon-bring-to-europe
Iskandar, N. A. (2026, March 2). 5 Mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Budaya dan Fakta Sains di Baliknya. Media Indonesia.
https://mediaindonesia.com/teknologi/865833/5-mitos-gerhana-bulan-dari-berbagai-budaya-dan-fakta-sains-di-baliknya
Naufal, I. (2026, March 3). BMKG Bawa Kabar Baik Sekaligus Buruk soal Gerhana Bulan Total Malam Ini, Ada Apa? Inilah.com.
https://www.inilah.com/bmkg-bawa-kabar-baik-sekaligus-buruk-soal-gerhana-bulan-total-malam-ini-ada-apa
Rahma, A. (2026, March 3). Kisah Batara Kala, Asal Usul Gerhana Matahari dan Bulan Menurut Legenda Jawa. DetikJateng.
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-8381876/kisah-batara-kala-asal-usul-gerhana-matahari-dan-bulan-menurut-legenda-jawa