Pelukan Kecil di Tengah Riuh Kota

Di depan bangunan yang tampak biasa saja, di antara kabel-kabel yang kusut seperti pikiran orang dewasa, aku menggendong Iliana dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Lengannya melingkar erat di leherku, seolah aku adalah tempat paling aman di dunia yang masih ia coba pahami. Ia tersenyum, dan entah bagaimana, senyum kecil itu mampu meredakan lelah yang bahkan belum sempat kuucapkan.

Aku mengangkat dua jari membentuk tanda damai, bukan sekadar untuk kamera, tapi seperti isyarat sederhana bahwa hidup ini, sejauh apa pun terasa berat, selalu punya celah untuk diringankan. Di pelukanku, Iliana bukan hanya anakku, ia adalah pusat dari semesta kecil yang diam-diam kujaga setiap hari. Ada bahasa yang tak perlu kata-kata di antara kami, cukup tatapan dan kehangatan yang mengalir tanpa diminta.

Mungkin suatu hari nanti, aku akan melihat kembali momen ini dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai kejadian biasa di tengah hari yang sibuk, tapi sebagai potongan kecil dari kehidupan yang begitu berarti. Karena pada akhirnya, yang paling tertinggal bukanlah tempat atau waktu, melainkan rasa hangat ketika aku memeluk Iliana, dan ia memelukku kembali dengan cara yang paling tulus.