Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat dalam shalat malam, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan." (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi memiliki amalan shalat malam yang konsisten: sebelas rakaat. Delapan rakaat shalat yang bisa disebut tarawih atau tahajjud, dan tiga rakaat witir.
Di bulan Ramadan, umat Islam mengenal shalat tarawih yang dikerjakan setelah Isya berjamaah di masjid. Ini adalah sunnah yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu atas dasar contoh Nabi yang pernah shalat berjama'ah beberapa malam, lalu meninggalkannya karena khawatir diwajibkan.
Para ulama berbeda pendapat soal jumlah rakaat tarawih: sebagian berpendapat delapan rakaat mengikuti hadits Aisyah di atas, sebagian lagi berpendapat dua puluh rakaat mengikuti praktik kebanyakan sahabat. Ini adalah perbedaan yang sehat dan tidak perlu diperselisihkan.
Yang lebih penting adalah kualitas shalat malam kita. Nabi bersabda: "Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Beliau tidur setengah malam, kemudian shalat sepertiganya, kemudian tidur seperenamnya." (HR. Bukhari no. 1131)
Di bulan Ramadan, kita bisa menggabungkan tarawih di awal malam dan tahajjud di sepertiga malam terakhir. Atau cukup fokus pada satu, tapi dengan kualitas yang baik. Yang terpenting: jangan biarkan malam-malam Ramadan berlalu tanpa shalat malam.
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi memiliki amalan shalat malam yang konsisten: sebelas rakaat. Delapan rakaat shalat yang bisa disebut tarawih atau tahajjud, dan tiga rakaat witir.
Di bulan Ramadan, umat Islam mengenal shalat tarawih yang dikerjakan setelah Isya berjamaah di masjid. Ini adalah sunnah yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu atas dasar contoh Nabi yang pernah shalat berjama'ah beberapa malam, lalu meninggalkannya karena khawatir diwajibkan.
Para ulama berbeda pendapat soal jumlah rakaat tarawih: sebagian berpendapat delapan rakaat mengikuti hadits Aisyah di atas, sebagian lagi berpendapat dua puluh rakaat mengikuti praktik kebanyakan sahabat. Ini adalah perbedaan yang sehat dan tidak perlu diperselisihkan.
Yang lebih penting adalah kualitas shalat malam kita. Nabi bersabda: "Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Beliau tidur setengah malam, kemudian shalat sepertiganya, kemudian tidur seperenamnya." (HR. Bukhari no. 1131)
Di bulan Ramadan, kita bisa menggabungkan tarawih di awal malam dan tahajjud di sepertiga malam terakhir. Atau cukup fokus pada satu, tapi dengan kualitas yang baik. Yang terpenting: jangan biarkan malam-malam Ramadan berlalu tanpa shalat malam.