Vidi Aldiano



Pada suatu sore yang tampak biasa bagi kota yang terlalu sering menyimpan kesedihan diam-diam, kabar itu datang seperti burung hitam yang menabrak jendela: Vidi Aldiano telah meninggal dunia. Ia berpulang pada Sabtu, 7 Maret 2026, setelah bertahun-tahun berperang dengan kanker ginjal yang diam-diam tumbuh di dalam tubuhnya sejak 2019.

Namun kabar kematian selalu datang terlambat dibandingkan kehidupan seseorang.

Di banyak rumah di Indonesia, radio dan ponsel seperti mendadak mengingat masa lalu. Lagu-lagu yang pernah terdengar ringan, tentang cinta yang malu-malu, tentang harapan yang sederhana, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih berat, seperti hujan yang turun di kota yang sudah lama menunggu kemarau.

Ada orang yang mengenangnya dari “Nuansa Bening”, yang pernah ia nyanyikan seolah udara bisa menjadi kaca jernih tempat kenangan disimpan. Pencipta lagu “Nuansa Bening” adalah Keenan Nasution bersama Rudi Pekerti. Lagu ini pertama kali dirilis pada tahun 1978 dalam album Di Batas Angan-Angan dan awalnya dinyanyikan sendiri oleh Keenan Nasution. Ada yang mengingatnya dari senyumnya yang terlalu hangat untuk dunia yang sering dingin. Dan ada pula yang hanya ingat bahwa suatu ketika, suara seorang penyanyi muda membuat perjalanan pulang terasa lebih singkat.

Vidi adalah salah satu dari sedikit orang yang tampak seperti dilahirkan dengan musim semi di dalam dadanya. Ia berjalan di antara panggung dan rumah sakit, di antara tepuk tangan dan hasil laboratorium, seakan hidup hanyalah dua sisi dari lagu yang sama. Selama bertahun-tahun ia membawa penyakit itu seperti rahasia kecil yang ia sembunyikan di balik tawa. 

Orang-orang berkata ia sedang melawan kanker. Tetapi mungkin yang sebenarnya terjadi adalah: ia sedang berusaha menunda kesunyian.

Ketika kabar itu akhirnya tiba, dunia tidak benar-benar berhenti. Jalanan masih macet, kopi masih pahit, dan sore masih berubah menjadi malam seperti biasa. Tetapi di dalam banyak hati, ada sesuatu yang pelan-pelan menjadi kosong, seperti kursi yang ditinggalkan seseorang setelah lagu terakhir selesai dimainkan.

Barangkali beginilah cara seorang penyanyi pergi: bukan dengan diam, melainkan dengan gema.

Dan pada malam itu, ketika banyak orang memutar kembali lagu-lagunya, suara Vidi Aldiano terdengar seperti datang dari tempat yang jauh, sebuah tempat di mana kenangan tidak pernah benar-benar mati, hanya berubah menjadi musik yang terus berputar di udara.

Seolah-olah ia belum pergi. Seolah-olah ia hanya sedang menyanyi dari ruangan lain di alam semesta.

Barangkali yang paling bijaksana adalah hidup dengan penuh syukur, sebab kita tidak pernah tahu lagu mana yang ternyata adalah lagu terakhir yang kita dengar di dunia ini.