Di antara tumpukan kitab-kitab tua yang bisu namun sarat makna, dia berdiri tegak, tak ubahnya seorang arsitek andal yang tengah merancang menara impian. Jemari mungilnya, seakan berdenyut dengan irama kreativitas yang tak terbendung, menumpuk balok demi balok kayu dengan penuh keyakinan. Baju bermotif bunga-bunga kecilnya, bagai hamparan taman surga yang ikut bersukacita menyaksikan keajaiban yang tercipta.
Jepit rambut merah muda bergambar pelangi, ah, itu hanyalah hiasan kecil, tak sebanding dengan pancaran sinar matanya yang penuh keyakinan. Di belakangnya, tirai-tirai rak buku menjulang tinggi, menjadi pagar ilmu yang melindunginya dari kerasnya dunia luar. Jauh di sana, terlihat samar-samar jam dinding usang, tempat di mana waktu seakan berhenti berdetak saat dia tenggelam dalam dunianya sendiri.
Kebahagiaan bukan pada megahnya dekorasi atau banyaknya tamu undangan, melainkan pada ketulusan senyum dan keyakinan di balik matamu. Kau, dengan kepolosanmu, telah menciptakan duniamu sendiri, dunia di mana menara balok kayu adalah istana dan setiap helai daun adalah hiasan tak ternilai.
Di sini, di perpustakaan, tempat di mana mimpi-mimpi para pengarang dirajut dan diperjuangkan, dia merajut mimpinya sendiri. Dia tak perlu buku pelajaran untuk belajar tentang keindahan, karena dia sendirilah perwujudan keindahan itu. Dan dengan sekali teguk, aku pun siap melangkah kembali, melanjutkan perjalanan panjang menuju mimpi-mimpi yang masih terukir di atas kertas kusam.