Iliana duduk diam di kursi dekat jendela pesawat, punggung kecilnya menghadapku, rambutnya terikat sederhana seperti hari-hari biasa yang selalu ingin ia buat terasa istimewa. Di luar sana, butiran hujan menempel di kaca, seolah ikut pulang bersamanya. Aku menatapnya tanpa suara, mencoba menghafal momen ini, seperti menghafal huruf pertama yang dulu ia pelajari dengan terbata.
Satu bulan di Kalimantan terasa panjang, namun kepulangan ini justru terasa lebih panjang lagi di dadaku. Iliana tidak banyak bergerak, hanya menatap keluar, mungkin melihat langit yang perlahan berubah warna, atau mungkin sekadar memandangi hujan yang jatuh tanpa alasan yang bisa dijelaskan anak seusianya. Aku tahu, di dalam diamnya, ada cerita yang tidak ia ucapkan.
Sore ini, kami kembali ke Jawa, dan aku merasa seperti membawa pulang sesuatu yang tak terlihat. Bukan sekadar perjalanan, melainkan potongan waktu yang diam-diam membesarkan Iliana, sedikit demi sedikit. Dari kursiku, aku hanya bisa berbisik dalam hati, semoga setiap perjalanan pulang selalu memberinya keberanian untuk pergi lagi suatu hari nanti.
Satu bulan di Kalimantan terasa panjang, namun kepulangan ini justru terasa lebih panjang lagi di dadaku. Iliana tidak banyak bergerak, hanya menatap keluar, mungkin melihat langit yang perlahan berubah warna, atau mungkin sekadar memandangi hujan yang jatuh tanpa alasan yang bisa dijelaskan anak seusianya. Aku tahu, di dalam diamnya, ada cerita yang tidak ia ucapkan.
Sore ini, kami kembali ke Jawa, dan aku merasa seperti membawa pulang sesuatu yang tak terlihat. Bukan sekadar perjalanan, melainkan potongan waktu yang diam-diam membesarkan Iliana, sedikit demi sedikit. Dari kursiku, aku hanya bisa berbisik dalam hati, semoga setiap perjalanan pulang selalu memberinya keberanian untuk pergi lagi suatu hari nanti.