Bidadari Kecil

Izinkan aku menarasikan bidadari kecil yang tengah merajai panggung karpet merah. Lihatlah senyumnya, senyum yang mampu meluluhkan kebekuan hati paling beku sekalipun. Di pesta perkawinan paman sepupu jauh yang entah dari garis keturunan ke berapa, dia berdiri tegak. Blus katunnya sewarna susu kuda liar Pelaihari, bersih tanpa noda celup kesombongan. Celana cokelatnya, longgar dan membumi, seakan berkata bahwa dialah sang penjelajah dunia, siap menaklukkan rimba raya kehidupan dengan langkah kakinya yang masih mungil, dibungkus sepatu putih yang mungkin sudah tak lagi muat esok hari.

Tangan kanannya terkepal, bukan kepalan tinju kemarahan, melainkan kepalan harapan. Jari-jemari mungilnya menggenggam sekuntum kelopak bunga merah imajiner, hasil petikannya dari khayalan tentang taman surga. Seakan dia berkata, "Lihatlah, Bapak! Aku sudah menemukan keindahan yang melampaui gemerlap lampu hiasan ini." Rambutnya yang bergelombang, diterpa angin sepoi-sepoi Rantau, mengalir bagai sungai kecil yang tak pernah kenal lelah mencari muara. Anting emas tipis di telinganya, tak sebanding dengan pancaran sinar matanya yang penuh keyakinan. Di belakangnya, tirai putih menjuntai, bunga-bunga berwarna merah dan putih berebutan ingin menjadi saksi bisu keanggunannya, padahal merekalah yang seharusnya merasa beruntung berada di dekat bidadari kecilku ini.

Di usiamu yang masih hijau, kau sudah mengajarkanku tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan bukan pada megahnya dekorasi atau banyaknya tamu undangan, melainkan pada ketulusan senyum dan keyakinan di balik matamu. Kau, dengan kepolosanmu, telah menciptakan duniamu sendiri, dunia di mana bunga khayalan jauh lebih indah dari bunga asli, dunia di mana karpet merah bukan panggung ketenaran, melainkan panggung petualangan.