Bike to Home 2

Aku kembali mengayuh di jalan yang hampir kosong, hanya ditemani lampu-lampu yang menggantung jauh di depan. Tangan kiriku menggenggam setang, bayangannya ikut bergerak di aspal, seolah ada dua aku yang sama-sama pulang. Udara malam terasa lebih sunyi dari biasanya, seperti sengaja memberi ruang untuk pikiran yang tak sempat kuselesaikan siang tadi.


Di kejauhan, lampu kendaraan tampak kecil, datang dan pergi tanpa pernah benar-benar singgah. Jalan ini terasa lebih panjang saat malam, tapi juga lebih jujur. Tidak ada hiruk, tidak ada tergesa, hanya aku, sepeda, dan arah yang sudah kupahami tanpa perlu bertanya lagi.


Aku terus melaju, pelan namun pasti. Pulang kali ini terasa seperti mengulang, tapi justru di situlah aku menemukan sesuatu yang berbeda. Di antara lelah yang sama, ada ketenangan baru yang tumbuh diam-diam, seperti malam yang tak pernah meminta apa-apa, tapi selalu memberi tempat untuk kembali.