Aku kembali mengayuh di jalan yang hampir kosong, hanya ditemani lampu-lampu yang menggantung jauh di depan. Tangan kiriku menggenggam setang, bayangannya ikut bergerak di aspal, seolah ada dua aku yang sama-sama pulang. Udara malam terasa lebih sunyi dari biasanya, seperti sengaja memberi ruang untuk pikiran yang tak sempat kuselesaikan siang tadi.