Aku berhenti sejenak di tepi jalan, tangan masih menggenggam setang sepeda yang sejak pagi menemaniku. Malam turun tanpa banyak suara, hanya lampu-lampu jalan dan kendaraan yang lewat menjadi penanda bahwa dunia belum benar-benar istirahat. Aspal tampak mengilap, seperti menyimpan sisa-sisa lelah yang juga kurasakan di tubuh ini.
Motor-motor melaju, lampunya memanjang seperti garis-garis waktu yang tak sempat kugenggam. Aku tidak ikut terburu-buru. Di titik ini, pulang terasa lebih dari sekadar arah, ia seperti jeda yang pelan-pelan mengembalikan aku pada diriku sendiri. Di balik lelah, ada rasa lega yang sederhana.
Aku menarik napas panjang, lalu kembali mengayuh. Di ujung perjalanan ini, aku tahu ada rumah yang menunggu, ada Iliana dengan dunia kecilnya yang selalu berhasil membuat semuanya terasa cukup. Dan malam ini, seperti malam-malam lain, aku pulang bukan hanya membawa lelah, tapi juga sedikit syukur yang diam-diam tumbuh sepanjang jalan.