Dengan semangat juang, aku kayuh pedal sepedaku menerjang aspal tipis di depan mata. Di bawah naungan atap dedaunan lebat yang tak berujung, tangan kiriku mantap mencengkeram stang, siap sedia di dekat bel merah menyala. Paving block di sebelah kiri tampak kusam, saksi bisu ribuan kaki yang telah melintas, sementara daun-daun kering berserakan menjadi hiasan tak beraturan di sepanjang jalan menuju masa depan.
Aku bukanlah tipe orang yang mudah menyerah, apalagi urusan mencari sesuap nasi. Meskipun tak terlihat di kamera, dalam benakku terpancar gambaran masa kecil, di mana kami berlomba-lomba mengendarai sepeda dengan riang gembira. Sekarang, dengan sepeda ini, aku merasa seolah-olah sedang mengulangi masa-masa indah itu, meskipun dengan tujuan yang berbeda: bertahan hidup di tengah kerasnya dunia.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara bising mesin kendaraan bermotor. Aku sedikit mempercepat laju sepedaku, mencoba menjauh dari keramaian jalan raya di sebelah kanan yang berbatasan dengan pagar merah-putih. Bel merah kakek terus berdering nyaring, seakan menyuarakan semangatku untuk terus maju dan tidak mudah menyerah.
Aku bukanlah tipe orang yang mudah menyerah, apalagi urusan mencari sesuap nasi. Meskipun tak terlihat di kamera, dalam benakku terpancar gambaran masa kecil, di mana kami berlomba-lomba mengendarai sepeda dengan riang gembira. Sekarang, dengan sepeda ini, aku merasa seolah-olah sedang mengulangi masa-masa indah itu, meskipun dengan tujuan yang berbeda: bertahan hidup di tengah kerasnya dunia.
Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara bising mesin kendaraan bermotor. Aku sedikit mempercepat laju sepedaku, mencoba menjauh dari keramaian jalan raya di sebelah kanan yang berbatasan dengan pagar merah-putih. Bel merah kakek terus berdering nyaring, seakan menyuarakan semangatku untuk terus maju dan tidak mudah menyerah.