Aku menggenggam setang sepeda erat-erat, menembus jalan yang memanjang di bawah langit biru yang terasa terlalu luas untuk pagi seperti ini. Angin menyentuh wajahku tanpa banyak basa-basi, sementara roda terus berputar seolah tahu arah yang harus kutuju. Di kiri kanan, rumput dan sawah diam saja, seperti penonton setia yang tak pernah absen melihat orang-orang berangkat dengan cerita masing-masing.
Motor dan mobil lewat bergantian, sebagian terburu-buru, sebagian terlihat biasa saja. Aku memilih tetap di lajuku sendiri, tidak cepat, tidak juga lambat, hanya cukup untuk membuat pikiranku ikut berjalan. Ada sesuatu yang tenang dalam perjalanan seperti ini, ketika tangan, kaki, dan jalan sepakat untuk saling mengerti tanpa perlu banyak kata.
Di depan, jalan terus terbuka, dan aku tahu, pekerjaan menungguku di ujung sana. Tapi pagi ini, yang kurasakan bukan sekadar berangkat, melainkan meninggalkan sejenak rumah, kenangan kecil, dan suara-suara yang biasanya menemaniku. Aku mengayuh lagi, pelan tapi pasti, seperti meyakinkan diri bahwa setiap perjalanan selalu punya alasan untuk dijalani.
Motor dan mobil lewat bergantian, sebagian terburu-buru, sebagian terlihat biasa saja. Aku memilih tetap di lajuku sendiri, tidak cepat, tidak juga lambat, hanya cukup untuk membuat pikiranku ikut berjalan. Ada sesuatu yang tenang dalam perjalanan seperti ini, ketika tangan, kaki, dan jalan sepakat untuk saling mengerti tanpa perlu banyak kata.
Di depan, jalan terus terbuka, dan aku tahu, pekerjaan menungguku di ujung sana. Tapi pagi ini, yang kurasakan bukan sekadar berangkat, melainkan meninggalkan sejenak rumah, kenangan kecil, dan suara-suara yang biasanya menemaniku. Aku mengayuh lagi, pelan tapi pasti, seperti meyakinkan diri bahwa setiap perjalanan selalu punya alasan untuk dijalani.