Bukit Langara

Kabut pagi di Bukit Langara seperti surat cinta yang belum selesai ditulis oleh langit. Aku berdiri di atas batu yang dingin, bersama Nana, istriku, dan teman-temanku, memandangi rimba hijau yang seakan tak pernah lelah bernapas. Di desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, kami bukan siapa-siapa, hanya sekumpulan manusia yang sedang belajar kecil di hadapan alam yang begitu luas.

Nana tersenyum di sampingku, senyum yang selalu membuat perjalanan sejauh apa pun terasa pulang. Teman-temanku bersorak, mengacungkan jempol ke arah dunia yang seperti baru saja diciptakan ulang oleh kabut. Di kejauhan, sungai berkelok seperti cerita lama yang tak ingin dilupakan. Angin menyentuh wajah kami pelan, seolah tahu bahwa kami datang membawa lelah, dan pulang dengan syukur.

Aku menyadari, kebahagiaan seringkali tidak membutuhkan sesuatu yang megah. Cukup langkah yang setia, teman yang tulus, dan seseorang yang menggenggam tanganmu tanpa banyak kata. Di puncak bukit ini, kami tidak hanya mendaki tanah, tetapi juga harapan, dan mungkin, sedikit lebih dekat pada mimpi yang diam-diam kami simpan sejak lama.