Iliana memegang es krim di tangannya, warna hijau itu tampak terlalu cerah untuk malam yang sederhana seperti ini. Di bibirnya masih tersisa jejak yang belum sempat ia bersihkan, seolah ia lebih sibuk menikmati daripada merapikan. Aku melihatnya diam-diam, dan dunia terasa mengecil hanya pada satu genggaman kecil itu.
Matanya bergerak pelan, melihat ke samping dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah habis. Ia tidak banyak bicara, tapi dari caranya menggenggam dan mencicipi, aku tahu ia sedang benar-benar hadir di momen ini. Ada ketulusan yang tidak dibuat-buat, sesuatu yang sering hilang saat kita tumbuh terlalu cepat.
Aku duduk di depannya, membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa. Iliana, dengan es krim yang mulai meleleh di tangannya, mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak perlu besar. Cukup dingin yang manis, sedikit belepotan, dan tatapan mata yang jujur, itu sudah lebih dari cukup.
Matanya bergerak pelan, melihat ke samping dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah habis. Ia tidak banyak bicara, tapi dari caranya menggenggam dan mencicipi, aku tahu ia sedang benar-benar hadir di momen ini. Ada ketulusan yang tidak dibuat-buat, sesuatu yang sering hilang saat kita tumbuh terlalu cepat.
Aku duduk di depannya, membiarkan waktu berjalan tanpa tergesa. Iliana, dengan es krim yang mulai meleleh di tangannya, mengajarkanku bahwa kebahagiaan tidak perlu besar. Cukup dingin yang manis, sedikit belepotan, dan tatapan mata yang jujur, itu sudah lebih dari cukup.