Sore itu di Tapin Rantau, Kalimantan Selatan, langit perlahan berubah warna menjadi sepia, bagaikan sebuah lukisan tua yang perlahan memudar. Aku berjalan menyusuri trotoar, dan di tengah keramaian pasar sore, di bawah sebuah tenda plastik biru yang agak lusuh, berdirilah sesosok pahlawan tanpa tanda jasa di dunia kuliner, seorang maestro penggorengan yang tak kenal lelah.
Nampan-nampan perak besar di depannya tidaklah sekadar nampan; mereka adalah panggung pertunjukan yang megah, menampilkan barisan gorengan kegembiraan yang telah diubah melalui alkimia minyak panas dan adonan tepung menjadi patung-patung renyah yang memukau. Barisan gorengan yang tak habis-habisnya itu bagaikan legiun prajurit yang gagah berani, siap untuk ditaklukkan oleh lidah-lidah yang kelaparan.
Dengan kekaguman seorang murid seni yang menghadap ke mahakarya gurunya, aku mendekat. Mataku terpaku pada formasi katedral renyah di tengah nampan, gundukan gorengan berlapis tepung roti keemasan yang berkilau, mengingatkanku pada bulu-bulu burung surga yang diawetkan dalam dedikasi tertinggi terhadap seni penggorengan.
Di depannya, berbaris dengan disiplin militer yang ketat, adalah legiun cokelat padat, gorengan yang terbuat dari campuran misterius daging ikan dan bumbu rahasia yang digoreng hingga mencapai tingkat kekerasan permata kalsedon, menjanjikan gigitan yang substansial dan penuh karakter. Dan di kejauhan sana, di bawah tumpukan telur gulung yang lembut, bakso-bakso tampak seperti meteorit-meteorit mini yang baru saja jatuh dari langit kuliner. Ini bukan sekadar makanan, ini adalah pameran geologi dan astronomi jajanan!
Aku, akhirnya menunjuk ke arah formasi legiun cokelat padat dan gundukan katedral renyah tersebut dengan jariku yang bergetar karena antusiasme. Paman Penjual, dengan senyum yang menyimpan sejuta resep rahasia yang tak mungkin dipahami oleh mortal biasa, melayaniku dengan kecepatan seorang maestro biola yang sedang membawakan concerto paling rumit. Aku menerima kantong plastik yang hangat dan berminyak, lalu beranjak menuju tepi jalan.
Aku mengambil satu tusuk gorengan keemasan yang paling menarik, mencelupkannya sedikit ke dalam saus cabai merah yang tampak misterius dan berbahaya, lalu menggigitnya. Krakk! Suara itu adalah simfoni kepuasan yang menggema di dalam rongga mulutku, sebuah ledakan rasa gurih dan pedas yang seketika menghapus lelah perjalanan hari ini. Di Tapin Rantau ini, di bawah langit senja yang damai, aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati sering kali hanya seharga beberapa tusuk gorengan di sore hari.