Di atas hamparan karpet cokelat yang bisu, kami duduk bersila mengelilingi sebuah meja kayu kecil bernomor dua puluh enam, seolah meja itu adalah pusat gravitasi kegembiraan kami. Aroma steak yang mengepul dari piring-piring hitam panas di hadapan kami bercampur dengan aroma kekeluargaan yang kental, menciptakan sebuah orkestra rasa yang sederhana namun begitu mewah bagi jiwa-jiwa yang haus akan kebersamaan.
Aku memberikan tanda kemenangan dua jari, sementara Iliana tampak tak bisa diam, bergerak lincah dalam dekapannku. Di sisi lain meja, mata-mata berbinar di balik bingkai kaca mata dan senyum yang merekah tulus menjadi saksi betapa indahnya sore ini.
Di pojok ruangan, beberapa sosok lain tampak bercengkerama di atas lantai, jauh di belakang keriuhan meja kami. Gelas-gelas es teh yang berkeringat dan botol saus merah berdiri tegak di tengah kepungan piring-piring steak yang telah tersaji, menemani tas hitam yang tergeletak di bawah meja. Kami semua terdiam sejenak dalam satu bingkai potret, mengabadikan momen di bawah pancaran lampu neon yang memanjang di langit-langit, mematri janji bahwa kebahagiaan itu memang nyata adanya.
Aku memberikan tanda kemenangan dua jari, sementara Iliana tampak tak bisa diam, bergerak lincah dalam dekapannku. Di sisi lain meja, mata-mata berbinar di balik bingkai kaca mata dan senyum yang merekah tulus menjadi saksi betapa indahnya sore ini.
Di pojok ruangan, beberapa sosok lain tampak bercengkerama di atas lantai, jauh di belakang keriuhan meja kami. Gelas-gelas es teh yang berkeringat dan botol saus merah berdiri tegak di tengah kepungan piring-piring steak yang telah tersaji, menemani tas hitam yang tergeletak di bawah meja. Kami semua terdiam sejenak dalam satu bingkai potret, mengabadikan momen di bawah pancaran lampu neon yang memanjang di langit-langit, mematri janji bahwa kebahagiaan itu memang nyata adanya.