Labirin Nadi

Tangan yang sejatinya diciptakan untuk menggenggam takdir, atau setidaknya memegang pena untuk melukis mimpi di atas kertas kusam, kini kembali tak berdaya. Di punggung tangan yang tak lagi halus ini, bertengger dengan angkuhnya sebongkah benda plastik dengan katup biru menyala, menancapkan taringnya ke dalam urat nadiku, bagai seekor laba-laba besi yang tengah menghisap sisa-sisa kekuatanku. Plester putih itu membalutnya dengan paksa, seakan mengunci kebebasanku dalam kungkungan takdir yang pahit.

Aku menghela napas panjang, mengembuskan aroma kekalahan yang terasa pahit di tenggorokan. Rasanya baru kemarin aku menghirup udara bebas, menatap langit luas tanpa sekat, namun kini aku kembali terperangkap dalam lingkaran setan rasa sakit ini. Entah dosa apa yang telah kuperbuat hingga tubuh renta ini harus kembali menjadi medan pertempuran bagi penyakit yang tak kasat mata. Selang bening itu menjuntai pelan, membawa tetesan cairan kehidupan yang dingin, mengalir masuk ke dalam tubuhku, berdenyut seirama dengan detak jantungku yang kian melemah.

Cairan bening dalam selang itu, walau menyakitkan, sesungguhnya adalah simbol perlawanan yang tak pernah padam. Dia adalah bukti bahwa kehidupan, sekecil apa pun bentuknya, akan selalu menemukan jalan untuk bertahan.